Feeds:
Posts
Comments

Oleh : Alimuddin

Dimuat tanggal 6 Mei 2007 

 

 

Saya melihat Mak mencampur tuba tikus dengan kopi Ayah. Saya bukan diam saja melihat laku ganjil itu. Saya tampar kopi yang bercampur tuba itu hingga pecahan gelas kaca terserpih ke lantai.

Mak menjambak rambut saya, hingga serasa rontok dari kulit kepala. Tiada siapa-siapa di rumah. Sentara Ayah baru pulang ketika dari meunasah sudah terdengar suara sayup anak-anak mengaji. Saya diseret. Pergelangan tangan saya memerah, sebab ditarik kuat-kuat. Saya meraung. Bukan sebab sakit, tapi takut Mak mencampurkan kembali tuba ke dalam kopi Ayah.

Saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika disekap di dalam gudang. Tubuh saya dililit dengan kain jemuran. Kedua tangan saya dipelintir ke belakang. Mulut saya disumpal kain. Pintu gudang digembok. Saya mendengar suara Ayah. Di meunasah suara anak-anak mengaji terdengar syahdu. Ayah menanyakan saya. Jawab Mak, saya sedang mengaji malam. Ayah menanyakan kopi.

Sungguh, saya tidak tahu kenapa Mak ingin membunuh Ayah. Setahu saya, mereka akur-akur saja. Bagaimana kopinya, Yah? Mak bertanya dengan nada tak biasa. Saya berteriak-teriak. Tapi cuma buang-buang tenaga. Mulut yang dibungkam, tidak bisa mengeluarkan suara. Maka, meleleh air mata saya sejadinya.

Ayah menjawab, rasa kopi nikmat. Beda dengan biasa. Suara Mak terkikik nyaris seperti kuntilanak yang acap saya tonton di televisi. Kemudian tak lagi terdengar suara Ayah. Esok paginya saya turut mengantar Ayah ke liang jahat. Mata saya bengkak. Mak mengancam akan membunuh saya jika membeberkan rahasia besar itu kepada siapa pun. Saya tidak punya opsi selain mengancing bibir rapat-rapat. Apalagi tiada yang menaruh curiga atas kematian ayah yang mendadak itu.

Seminggu baru saya ketahui apa alasan Mak menghabisi nyawa ayah dengan tuba tikus. Mak menggandeng seorang pria berbadan tegap dengan brewok lebat ke rumah. Lelaki itu memperkenalkan namanya, Indonesia. Ia menyorongkan tangan kekarnya ke arah saya. Ingin saya tampik sorongan itu. Namun, bulatan mata Mak membuat saya harus menerima salamnya.

Mak masuk ke kamar dengan tak lupa mengucap permisi kepada lelaki itu. Saya ingin masuk ke kamar, tapi ada tangan kekar yang menjamah lengan saya. Saya berontak. Tapi, lelaki itu malah mendekap saya. Saya mengancam akan berteriak. Baru saya bisa lepas dan lekas berlari ke kamar dan mengunci pintu. Selang tak lama, saya mendengar cekikikan-cekikikan dari kamar Mak.

Lalu betul saja, lelaki itu menjadi Ayah saya melalui kenduri kecil-kecilan. Setelah itu, lelaki itu sudah serumah dengan saya. Dan, setiap Mak tak di rumah, ia selalu berusaha mendekap saya. Untungnya, Mak jarang sekali tak di rumah. Bila pun pergi, jarang sekali lelaki itu tak diajak serta. Namun, satu senja, kegadisan saya nyaris terenggut oleh lelaki itu. Mak sedang keluar rumah. Sedangkan lelaki itu beralasan sakit perut untuk tak turut serta. Untungnya Mak pulang cepat dari yang seharusnya.

Tentu saja saya tak berani bercerita pada Mak atas ulah kurang ajar lelaki itu. Selain takut ancaman lelaki itu yang akan menebas leher saya dengan belati, saya juga yakin manalah Mak percaya pada tutur kata saya. Bisa saja, malah Mak menuding saya sebagai penggoda. Maka saya memilih bersikap ekstra hati-hati. Setiap Mak keluar rumah tanpa lelaki itu, saya memilih untuk ke luar rumah saja. Namun, ada saja alasan yang dibuat ayah tiri saya itu untuk mencegah kepergian saya.

Saya pun tak bisa menolak. Mak memelototi saya. Dan, biarpun saya sudah menggembok pintu kamar dari dalam, lelaki itu tak kehabisan akal. Ia mencongkel pintu kamar saya, lalu berdiri mematung di ambang pintu sambil terkekeh. Perlawanan saya tidak berguna. Setelah Mak pulang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Lelaki itu mengurung diri di kamar. Mak pun tidak bertanya, mengapa mata saya bengkak.

Belakangan semakin sering lelaki itu menjamah tubuh saya. Bahkan lelaki itu akan menjambak rambut saya bila saya melakukan perlawanan terhadap hasratnya. Saya terkulai tak daya. Hanya menangis yang bisa saya lakukan. Suatu hari Mak menangkap ayah tiri saya yang sedang menjamah tubuh saya. Tapi, lelaki itu lihai lidah. Ia mengatakan, sayalah yang memancing persetubuhan itu. Walhasil, Mak menyepak-nyepak tubuh saya hingga remuk tulang-tulangnya. Lalu saya dipukul dengan pelepah rumbia. Saya lantas dikurung lagi di gudang dua hari tanpa makan-minum.

Sudah empat belas hari saya merasakan ada janin yang hidup di rahim saya, janin dari lelaki bernama Indonesia, ayah tiri saya. Begitu tahu, Mak bertubi-tubi melayangkan tinjunya ke perut saya. Kemudian terdengar piring-piring pecah. Suara Mak meledak-ledak. Sedangkan ayah tiri saya menuding bahwa sayalah penyebab semua itu. Maka, sayapun mendapat hadiah tempelengan berkali-kali dari telapak tangan Mak.

Mak lalu mendorong tubuh saya hingga terjerambab ke tanah liat halaman rumah. Air mata saya sama sekali tidak berguna. Mak juga mendorong badan suaminya, ayah tiri saya, hingga terjerambab di samping saya. Marah telah membuat Mak memiliki kekuatan besar sehingga kuasa mengusir ayah tiri saya tanpa perlawanan. Mak membanting pintu keras-keras. Saya menatap mata ayah tiri saya. Ia menarik saya. Ia mengajak saya turut dengannya. Saya tak punya lain pilihan selain ikut saja.

Bulan-bulan kemudian, saya tinggal segubuk dengan ayah tiri saya itu. Lelaki itu bekerja serampangan sehingga kami hanya bisa tinggal dalam gubuk rumbia. Ia telah menjadi suami saya. Maka, saya kini memanggilnya Abang Indonesia. Perut saya makin besar, namun suami saya itu tidak memperlakukan saya dengan semestinya. Perut saya menjadi sasaran tinju bila ia naik pitam. Uang dalam pundi-pundi yang saya kumpulkan dengan menjadi tukang cuci dari rumah ke rumah dirampasnya. Padahal itu saya kumpulkan untuk biaya bersalin kelak.

Belakangan ia membawa banyak teman pria ke gubuk kami. Saya menjerit ketika salah satu pria ingin menjamah tubuh saya. Tapi, anehnya, suami saya malah terbahak. Ketika pria itu puas, saya melihat suami saya diberinya segepok uang. Berulang kali itu terjadi, dan saya tidak berdaya untuk melawannya.

Lama-lama saya melihat, Abang Indonesia makin banyak uang. Dan saya, istri yang diobjekkannya, sama sekali tidak mendapat bagian. Suatu hari saya minggat dengan membawa sebungkus pakaian. Beruntung, seorang nenek menawarkan saya untuk tinggal di rumahnya setelah saya berjalan jauh. Akhirnya saya bisa menghirup udara lega.

Tiga hari setelah itu, kelegaan saya bertukar dengan ketakutan. Orang sekampung mengepung rumah baru saya. Mereka berteriak-teriak bahwa saya adalah perempuan lacur. Dan, saya tercengang begitu menemukan sosok Abang Indonesia berada di antara orang-orang kampung itu.

Saya diarak keliling kampung, diiringi cacian-cacian pedas. Dan, tiba-tiba, Abang Indonesia, bertindak sebagai pahlawan bagi saya. Ia membebaskan saya dari arak-arak itu. Ia membawa saya pulang. Tapi, sesampai di rumah, sekujur tubuh saya malah remuk-redam dihantami tangan kekarnya. Lalu, sosok-sosok laki-laki asing satu demi satu kembali datang menjamah tubuh saya, dan lagi-lagi suami saya mendapatkan bergepok-gepok uang dari mereka.

Saya tertekan dan terus mencari celah untuk kabur lagi, ke mana saja. Tapi, Abang Indonesia terus menjaga saya dengan ketatnya. Tampaknya ia tidak ingin kehilangan saya lagi, istrinya, sekaligus mesin uangnya. Saya hanya bisa berharap, kelak ia benar-benar akan mencintai saya sebagai istrinya, bukan sekadar sebagai mesin uangnya.

Goa

Oleh Iggoy el Fitra

Dimuat tanggal 25 Februari 2007

SALJU menutupi sebagian bahumu. Sedikit tumpukan di kaki, karena perjalanan ini terhenti. Matahari memang jelas di atas kita, namun angin selalu kencang seperti tanda-tanda akan datangnya badai. Tidak seharusnya kita berhenti. Badai seperti shinkansen Tokyo yang memelesat mengejar waktu seakan mengejar kita. Kau mengeluh lelah, maka kita sejenak istirahat di bawah cemara yang dahan-dahannya dilumuri butir es serupa donat bergula. Perjalanan di depan sana tiada tampak ujungnya.

Katamu, liburan di Hokkaido pada musim dingin adalah perjalanan impianmu. Kau akan mencari sebuah gua yang konon selalu muncul dalam mimpi-mimpimu berupa wahyu. Gua itu tak kautemui di tanah kita. Telah berjalan pula kita ke Eropa, menyusuri lembah Mongolia, Timur Tengah, padang Afrika, dan ke mana saja, tidak juga ada gua itu. Mengapa kaupikir bisa kita temukan di Jepang? Aku heran dengan keinginanmu.

“Gua itu adalah tempat terakhir seluruh manusia,” katamu.

“Tempat terakhir? Bukankah tempat terakhir itu adalah kubur, atau akhirat?”

“Bukan. Gua itulah tempat terakhirnya. Di mimpiku, gua itu benar-benar indah. Di dalamnya mengalir sungai jernih seperti susu, dan seluruh penghuninya akan selalu menebarkan senyum dari wajah-wajah indah mereka yang bercahaya. Itulah tempat terakhir kita!”

“Semoga kau tidak salah, sebab banyak sekali gua di dunia ini.”

“Ya, aku harap aku tidak salah. Syahdan, gua itu ada dua, tapi hanya satu yang harus dimasuki.”

“Aku lelah.”

“Lelah? Lelahkah kau selama ini mencintaiku?”

“Tidak.”

“Mengapa kau mengeluh? Kau tahu, ini seakan adalah ritualmu untuk menikahiku. Butuh kesabaran. Bersabarlah sampai gua itu kutemukan.”

“Sampai kapan aku harus bersabar?”

Benarkah aku harus menahan sabarku untuk tidak menyentuhmu, atau menciummu, atau bahkan mencumbuimu hanya karena sebuah gua? Hanya sebuah gua, yang entah kapan akan ditemukan. Impian tolol, pikirku. Hanya demi kaulah aku di sini. Bukan karena gua itu.

Kau tahu, perjalanan ini tiada tampak juga batang hidungnya. Di ujung sana, pohon-pohon cemara berbaris dan menjelma fatamorgana. Semoga saja setan hutan tidak menyesatkan kita. Tubuh yang lelah, apalagi kau. Lihat saja ransel yang tadi kaupanggul, telah kauhempaskan ke atas salju dan menjejakkan keputusasaan. Kendati ini perjalanan tiada tampak ujungnya, kau tetap kukuh, menaikkan kembali ransel ke bahumu, membersihkan sedikit bulir-bulir salju, dan menarik tanganku yang mulai kaku. Tanganmu terasa tebal dengan sarung itu. Rambutmu masih tercium wanginya.

“Pukul berapa ini,” tanyaku. Tidak ada jam di saku ataupun sebuah penunjuk arah.

“Coba kaulihat di atas sana. Matahari agak menyamping dari kepala kita.”

“Pukul sebelas atau pukul satu?”

“Entahlah, aku lupa, kita tidak membawa kompas.”

Kau meneruskan perjalanan. Aku mengekorimu.

Sebagai laki-laki, aku tampak begitu lemah di hadapanmu.

***

Perjalanan membutuhkan tenaga. Sedangkan kita tidak membawa bekal sedikit pun. Katamu bekal kita adalah diri kita sendiri. Apa yang berguna dari diri kita untuk mempertahankan hidup? Yang kita perlukan ialah makanan penghangat tubuh, dan mungkin lebih baik jika ada sebotol vodka. Dengan begitu aku takkan lelah sehingga hanya mampu menyeretkan kakiku saja. Ah, kita perlu berhenti. Aku tak kuat lagi.

“Ayolah, jangan manja,” ejekmu.

“Aku tidak manja. Hanya lelah.”

“Kita sudah istirahat tadi.”

“Tadi itu beberapa jam yang lalu, dan kini sudah berapa kilo kita berjalan? Heran, kekuatan apa yang diberikan gua itu padamu?”

Kau memalingkan muka kemudian menyandarkan tubuhmu ke patahan batang cemara yang terbaring. Aku mendekatimu. Memelukmu. Dan mengecup bibirmu, membayangkan mengisap kehangatan yang begitu dalam. Pelan kaudorong tubuhku.

“Sudah kubilang, bersabarlah!”

“Bagaimana aku bisa sabar kalau perutku lapar? Setidaknya kau sanggup membantu menahankan laparku.”

“Tahanlah sedikit!”

Butir salju turun satu per satu. Angin mulai kencang. Cepat kupeluk tubuhmu.

“Akan ada badai, Sayang. Berlindunglah dalam dekapanku.”

Kembali kau mendorongku. Tanganku malah kautarik. Kita berlari. Kau meninggalkan ranselmu. Badai mulai datang menerpa. Angin berputar-putar. Dahan-dahan cemara berayun-ayun. Badan kita mencondong ke depan sambil berusaha melangkahkan kaki dalam-dalam. Kita coba terus berjalan.

“Badai ini akan menggila!” aku berteriak menyaingi debur angin.

“Baiklah, keluarkan tenda di ranselmu!”

Tenda di ranselku terlalu kecil untuk berdua. Semula telah kaubawa tenda sendiri di ranselmu demi menghindari hal yang tak kauinginkan, hal yang aku dambakan. Tapi tanpa pikir panjang kau meninggalkan ranselmu. Jadilah kita berimpitan dalam satu tenda, berlindung dari badai yang meraja.

Tanganmu di pundakku. Wajahku di dadamu. Mau tak mau kau harus memelukku, mengiringi lingkaran tanganku di pinggangmu.

“Ini benar-benar dingin, Sayang.”

“Ya.”

“Jangan ketus begitulah.”

Sikapmu itu malah memancing gairah.

“Aku menyayangimu.”

“Ya.”

“Aku mencintaimu.”

“Ya. Ughh.”

Wajahku sudah berada di lehermu yang berjenjang. Harumnya menerobos lewat lubang hidung sampai menjalar ke seluruh tubuhku yang mulai bergetar. Dengus napasmu lebih kencang ketimbang raungan angin di luar sana. Sedangkan pintu tenda yang telah rapat resletingnya tidak bakal membuat hangat lantaran dingin dapat menyelinap dari mana saja. Akulah yang menghangatkanmu, dan kau yang menggetarkanku.

Kau menyerah di pelukanku. Bukankah ini tujuan hidup kita? Ah, betapa indah. Aku seperti melayang keliling jagat raya, membawakan bunga ungu untukmu yang kupetik dari sebuah taman di bulan. Menyisipkan mutiara terlucu yang kucungkil dari kerang raja di delta menawan. Sesungguhnya cintaku adalah gairahnya, melenting-lenting dan hendak kautangkap. Kurunglah ia, dekaplah penuh bara.

Aku limbung di pangkuanmu.

Sungguh, kau begitu kusuka.

Bereskanlah tiga lapis celana parasutmu yang tercampak, dan mari kita bicarakan kenangan tadi sebentar saja.

Kau malah kesal.

Entah.

“Sudah kubilang bersabarlah!”

“Ah, lupakan saja yang sudah terjadi. Kita akan menikah juga nanti.”

“Menikah? Ya, lalu apa keindahan dan kenikmatan yang akan kurasakan nanti? Telah kaucoba, kan?!”

“Janganlah marah seperti itu padaku.”

“Yang kupikirkan sekarang hanya gua itu. Tak ada yang lain. Kini kau malah merusak pikiran dan mimpi indahku!”

“Baiklah-baiklah, kita cari gua itu. Badai sudah mereda. Uh, tujuan hidupmu seolah hanya untuk sebuah gua!”

“Ya, benar. Seluruh manusia hidup untuk mencari kesejahteraan di gua itu.”

Ranting cemara jatuh di depanmu. Entah suatu pertanda atau bukan, namun suasana jadi sedikit janggal. Aku telah kesal dan sangat terganggu oleh marahmu. Gua, gua, gua, dan gua saja yang ada di benak dan khayalmu. Segalanya terlupakan. Kuharap kau tidak lupa pula denganku.

Telah jauh kita berjalan, melewati dingin, badai, dan amarahmu. Aku tak ingin perjalanan kali ini tanpa hasil. Bukit besar muncul dari rerimbun cemara di depan kita, dan di kakinya ada sebuah gua. Kau membelalakkan mata, dan mempercepat langkah seolah ada tenaga lain yang lekat di kakimu.

***

Ini musim dingin, dan salju menyebar seperti virus. Tapi mengapa gua yang kautuju tidak terjamah salju. Benarkah ini guamu itu, gua yang kerap mengindahkan mimpi-mimpimu? Tak ada cahaya di dalamnya bila terlihat dari luar. Benarkah ini gua yang kausebut bahwa ada sungai jernih di dalamnya? Dan tentu sungai tak tampak jernihnya bila tak ada cahaya.

“Yakinlah dengan pilihanmu,” ujarku menyarankan.

“Ya, aku yakin. Kau ingat, jika telah masuk ke gua itu kita tak akan keluar untuk selamanya. Kita akan menikmati kehidupan indah di sana, menikah, beranak-pinak, dan hidup bahagia. Makanya aku tak akan sembarangan memilih.”

“Katamu, gua itu ada dua. Samakah kedua-duanya?”

“Tentu tidak. Tapi aku tak tahu bagaimana dengan gua yang satu lagi. Ah, lupakanlah. Ini adalah akhir perjalanan kita. Tempat terakhir kita. Ayo, masuklah!”

Langit mulai menggelap dan hawa panas menyembur dari sana. Setelah masuk lima langkah, aku kehilangan pintu keluarnya. Jalan di depanku sama dengan di belakang. Niscaya jika berjalan kembali ke belakang, jalannya sama dengan yang di depan. Maka aku dan kau harus memilih salah satunya. Ini memang gua yang tidak memiliki jalan keluar.

Aku berlari mengejarmu lantaran kau meninggalkanku terlalu jauh. Tidak ada keindahan di sini. Air berbau comberan busuk mengalir dan menciptakan genangan di tanah yang kita pijak. Para penghuni memang mulai terlihat, namun mereka selalu terdengar mengerang, merintih, dan berteriak-teriak seperti ada sesuatu yang akan membunuh mereka. Ah, tempat macam apa ini. Kau terdiam di depanku dengan genggaman yang gemetar.

Kita salah masuk, bukan, aku mencoba bertelepati. Ini bukan gua yang kautuju. Tapi mengapa kau tidak menampakkan kesalahanmu? Apa benar inilah guamu itu? Apa benar sungai jernih yang kaumaksud adalah genangan nanah yang selalu lengket terpijak ini? Apa benar penghuni-penghuni ramah itu adalah orang-orang yang berapi di kepalanya, orang-orang yang berulang kali terpotong bagian tubuhnya? Barangkali kau keliru.

“Pukul berapa sekarang?” tanyaku menyeka dahi yang mulai melepuh.

“Aku tak melihat matahari di atas. Angin sangatlah panas.”

Ilalangsenja Padang, 23 Oktober 2006

Gua

Oleh: Iggoy el Fitra

Dimuat tanggal 25 Februari 2007 

 

SALJU menutupi sebagian bahumu. Sedikit tumpukan di kaki, karena perjalanan ini terhenti. Matahari memang jelas di atas kita, namun angin selalu kencang seperti tanda-tanda akan datangnya badai. Tidak seharusnya kita berhenti. Badai seperti shinkansen Tokyo yang memelesat mengejar waktu seakan mengejar kita. Kau mengeluh lelah, maka kita sejenak istirahat di bawah cemara yang dahan-dahannya dilumuri butir es serupa donat bergula. Perjalanan di depan sana tiada tampak ujungnya.

Katamu, liburan di Hokkaido pada musim dingin adalah perjalanan impianmu. Kau akan mencari sebuah gua yang konon selalu muncul dalam mimpi-mimpimu berupa wahyu. Gua itu tak kautemui di tanah kita. Telah berjalan pula kita ke Eropa, menyusuri lembah Mongolia, Timur Tengah, padang Afrika, dan ke mana saja, tidak juga ada gua itu. Mengapa kaupikir bisa kita temukan di Jepang? Aku heran dengan keinginanmu.

“Gua itu adalah tempat terakhir seluruh manusia,” katamu.

“Tempat terakhir? Bukankah tempat terakhir itu adalah kubur, atau akhirat?”

“Bukan. Gua itulah tempat terakhirnya. Di mimpiku, gua itu benar-benar indah. Di dalamnya mengalir sungai jernih seperti susu, dan seluruh penghuninya akan selalu menebarkan senyum dari wajah-wajah indah mereka yang bercahaya. Itulah tempat terakhir kita!”

“Semoga kau tidak salah, sebab banyak sekali gua di dunia ini.”

“Ya, aku harap aku tidak salah. Syahdan, gua itu ada dua, tapi hanya satu yang harus dimasuki.”

“Aku lelah.”

“Lelah? Lelahkah kau selama ini mencintaiku?”

“Tidak.”

“Mengapa kau mengeluh? Kau tahu, ini seakan adalah ritualmu untuk menikahiku. Butuh kesabaran. Bersabarlah sampai gua itu kutemukan.”

“Sampai kapan aku harus bersabar?”

Benarkah aku harus menahan sabarku untuk tidak menyentuhmu, atau menciummu, atau bahkan mencumbuimu hanya karena sebuah gua? Hanya sebuah gua, yang entah kapan akan ditemukan. Impian tolol, pikirku. Hanya demi kaulah aku di sini. Bukan karena gua itu.

Kau tahu, perjalanan ini tiada tampak juga batang hidungnya. Di ujung sana, pohon-pohon cemara berbaris dan menjelma fatamorgana. Semoga saja setan hutan tidak menyesatkan kita. Tubuh yang lelah, apalagi kau. Lihat saja ransel yang tadi kaupanggul, telah kauhempaskan ke atas salju dan menjejakkan keputusasaan. Kendati ini perjalanan tiada tampak ujungnya, kau tetap kukuh, menaikkan kembali ransel ke bahumu, membersihkan sedikit bulir-bulir salju, dan menarik tanganku yang mulai kaku. Tanganmu terasa tebal dengan sarung itu. Rambutmu masih tercium wanginya.

“Pukul berapa ini,” tanyaku. Tidak ada jam di saku ataupun sebuah penunjuk arah.

“Coba kaulihat di atas sana. Matahari agak menyamping dari kepala kita.”

“Pukul sebelas atau pukul satu?”

“Entahlah, aku lupa, kita tidak membawa kompas.”

Kau meneruskan perjalanan. Aku mengekorimu.

Sebagai laki-laki, aku tampak begitu lemah di hadapanmu.

***

Perjalanan membutuhkan tenaga. Sedangkan kita tidak membawa bekal sedikit pun. Katamu bekal kita adalah diri kita sendiri. Apa yang berguna dari diri kita untuk mempertahankan hidup? Yang kita perlukan ialah makanan penghangat tubuh, dan mungkin lebih baik jika ada sebotol vodka. Dengan begitu aku takkan lelah sehingga hanya mampu menyeretkan kakiku saja. Ah, kita perlu berhenti. Aku tak kuat lagi.

“Ayolah, jangan manja,” ejekmu.

“Aku tidak manja. Hanya lelah.”

“Kita sudah istirahat tadi.”

“Tadi itu beberapa jam yang lalu, dan kini sudah berapa kilo kita berjalan? Heran, kekuatan apa yang diberikan gua itu padamu?”

Kau memalingkan muka kemudian menyandarkan tubuhmu ke patahan batang cemara yang terbaring. Aku mendekatimu. Memelukmu. Dan mengecup bibirmu, membayangkan mengisap kehangatan yang begitu dalam. Pelan kaudorong tubuhku.

“Sudah kubilang, bersabarlah!”

“Bagaimana aku bisa sabar kalau perutku lapar? Setidaknya kau sanggup membantu menahankan laparku.”

“Tahanlah sedikit!”

Butir salju turun satu per satu. Angin mulai kencang. Cepat kupeluk tubuhmu.

“Akan ada badai, Sayang. Berlindunglah dalam dekapanku.”

Kembali kau mendorongku. Tanganku malah kautarik. Kita berlari. Kau meninggalkan ranselmu. Badai mulai datang menerpa. Angin berputar-putar. Dahan-dahan cemara berayun-ayun. Badan kita mencondong ke depan sambil berusaha melangkahkan kaki dalam-dalam. Kita coba terus berjalan.

“Badai ini akan menggila!” aku berteriak menyaingi debur angin.

“Baiklah, keluarkan tenda di ranselmu!”

Tenda di ranselku terlalu kecil untuk berdua. Semula telah kaubawa tenda sendiri di ranselmu demi menghindari hal yang tak kauinginkan, hal yang aku dambakan. Tapi tanpa pikir panjang kau meninggalkan ranselmu. Jadilah kita berimpitan dalam satu tenda, berlindung dari badai yang meraja.

Tanganmu di pundakku. Wajahku di dadamu. Mau tak mau kau harus memelukku, mengiringi lingkaran tanganku di pinggangmu.

“Ini benar-benar dingin, Sayang.”

“Ya.”

“Jangan ketus begitulah.”

Sikapmu itu malah memancing gairah.

“Aku menyayangimu.”

“Ya.”

“Aku mencintaimu.”

“Ya. Ughh.”

Wajahku sudah berada di lehermu yang berjenjang. Harumnya menerobos lewat lubang hidung sampai menjalar ke seluruh tubuhku yang mulai bergetar. Dengus napasmu lebih kencang ketimbang raungan angin di luar sana. Sedangkan pintu tenda yang telah rapat resletingnya tidak bakal membuat hangat lantaran dingin dapat menyelinap dari mana saja. Akulah yang menghangatkanmu, dan kau yang menggetarkanku.

Kau menyerah di pelukanku. Bukankah ini tujuan hidup kita? Ah, betapa indah. Aku seperti melayang keliling jagat raya, membawakan bunga ungu untukmu yang kupetik dari sebuah taman di bulan. Menyisipkan mutiara terlucu yang kucungkil dari kerang raja di delta menawan. Sesungguhnya cintaku adalah gairahnya, melenting-lenting dan hendak kautangkap. Kurunglah ia, dekaplah penuh bara.

Aku limbung di pangkuanmu.

Sungguh, kau begitu kusuka.

Bereskanlah tiga lapis celana parasutmu yang tercampak, dan mari kita bicarakan kenangan tadi sebentar saja.

Kau malah kesal.

Entah.

“Sudah kubilang bersabarlah!”

“Ah, lupakan saja yang sudah terjadi. Kita akan menikah juga nanti.”

“Menikah? Ya, lalu apa keindahan dan kenikmatan yang akan kurasakan nanti? Telah kaucoba, kan?!”

“Janganlah marah seperti itu padaku.”

“Yang kupikirkan sekarang hanya gua itu. Tak ada yang lain. Kini kau malah merusak pikiran dan mimpi indahku!”

“Baiklah-baiklah, kita cari gua itu. Badai sudah mereda. Uh, tujuan hidupmu seolah hanya untuk sebuah gua!”

“Ya, benar. Seluruh manusia hidup untuk mencari kesejahteraan di gua itu.”

Ranting cemara jatuh di depanmu. Entah suatu pertanda atau bukan, namun suasana jadi sedikit janggal. Aku telah kesal dan sangat terganggu oleh marahmu. Gua, gua, gua, dan gua saja yang ada di benak dan khayalmu. Segalanya terlupakan. Kuharap kau tidak lupa pula denganku.

Telah jauh kita berjalan, melewati dingin, badai, dan amarahmu. Aku tak ingin perjalanan kali ini tanpa hasil. Bukit besar muncul dari rerimbun cemara di depan kita, dan di kakinya ada sebuah gua. Kau membelalakkan mata, dan mempercepat langkah seolah ada tenaga lain yang lekat di kakimu.

***

Ini musim dingin, dan salju menyebar seperti virus. Tapi mengapa gua yang kautuju tidak terjamah salju. Benarkah ini guamu itu, gua yang kerap mengindahkan mimpi-mimpimu? Tak ada cahaya di dalamnya bila terlihat dari luar. Benarkah ini gua yang kausebut bahwa ada sungai jernih di dalamnya? Dan tentu sungai tak tampak jernihnya bila tak ada cahaya.

“Yakinlah dengan pilihanmu,” ujarku menyarankan.

“Ya, aku yakin. Kau ingat, jika telah masuk ke gua itu kita tak akan keluar untuk selamanya. Kita akan menikmati kehidupan indah di sana, menikah, beranak-pinak, dan hidup bahagia. Makanya aku tak akan sembarangan memilih.”

“Katamu, gua itu ada dua. Samakah kedua-duanya?”

“Tentu tidak. Tapi aku tak tahu bagaimana dengan gua yang satu lagi. Ah, lupakanlah. Ini adalah akhir perjalanan kita. Tempat terakhir kita. Ayo, masuklah!”

Langit mulai menggelap dan hawa panas menyembur dari sana. Setelah masuk lima langkah, aku kehilangan pintu keluarnya. Jalan di depanku sama dengan di belakang. Niscaya jika berjalan kembali ke belakang, jalannya sama dengan yang di depan. Maka aku dan kau harus memilih salah satunya. Ini memang gua yang tidak memiliki jalan keluar.

Aku berlari mengejarmu lantaran kau meninggalkanku terlalu jauh. Tidak ada keindahan di sini. Air berbau comberan busuk mengalir dan menciptakan genangan di tanah yang kita pijak. Para penghuni memang mulai terlihat, namun mereka selalu terdengar mengerang, merintih, dan berteriak-teriak seperti ada sesuatu yang akan membunuh mereka. Ah, tempat macam apa ini. Kau terdiam di depanku dengan genggaman yang gemetar.

Kita salah masuk, bukan, aku mencoba bertelepati. Ini bukan gua yang kautuju. Tapi mengapa kau tidak menampakkan kesalahanmu? Apa benar inilah guamu itu? Apa benar sungai jernih yang kaumaksud adalah genangan nanah yang selalu lengket terpijak ini? Apa benar penghuni-penghuni ramah itu adalah orang-orang yang berapi di kepalanya, orang-orang yang berulang kali terpotong bagian tubuhnya? Barangkali kau keliru.

“Pukul berapa sekarang?” tanyaku menyeka dahi yang mulai melepuh.

“Aku tak melihat matahari di atas. Angin sangatlah panas.”

Ilalangsenja Padang, 23 Oktober 2006

 

Oleh : Dian Hartati

Dimuat tanggal 28 Januari 2007

 

denganmu yang melingkar di jari manis

aku memulai perjalanan

namamu kupanggil

rindu ini membawaku kembali

kaudengar

barcelona…

senyum memiriskan hati

genggam tangan yang tiba-tiba

Bangku-bangku panjang masih tetap terisi. Tahun-tahun berlalu tak mengubah keramaian di sini. Birunya langit menepiskan gerak gemawan. Wajah-wajah kenangan selalu tersimpan di hati. Sekelompok laki-laki begitu asyik memandang kaki langit, seseorang di antaranya tengah mengambil gambar. Aku perhatikan mereka satu per satu. Adakah dirimu menyeruak dan memberiku sebuah senyuman? Aku melangkah meninggalkan mereka yang semakin riuh. Terdengar tawa-tawa yang renyah, seperti tawamu kala itu.

Bulan ini adalah ulang tahunmu. Perayaan yang selalu kaulupakan, tetapi aku akan terus mengingatkanmu. Memberimu sepotong banana cake, menuangkan segelas minuman beraroma keras, dan menemanimu sepanjang hari. Tujuh tahun lampau kita duduk di bangku panjang ini. Menikmati semilir angin yang datang dari jauh sana. Memanjakan mata-mata kita karena lanskap begitu memesona. Kita pun meneguk sedikit demi sedikit air dari Canaletes. Sebuah perjumpaan abadi.

Senja penuh senyuman. Aku kencangkan simpul tali jaket tebalku. Ranggas daun-daun berserakan di sepanjang jalan. Lihatlah gugurnya, memecah ingatan siapa saja yang pernah datang ke tempat ini. Langkah-langkah kucermati. Begitu santai menikmati bangunan-bangunan abad lampau, papan-papan reklame, penunjuk arah. Senja semakin gasal. Adakah jejakmu terbaca di lantai keramik petang ini.

Langkahku terhenti di kerumunan banyak orang. Jalan yang lebar jadi sempit. Seorang laki-laki beruban sibuk dengan berbagai warna di tangannya. Matanya menatap kanvas dengan tajam. Sebuah lanskap sedang dilukiskan. Aku melangkah mendekati berbagai lukisan yang telah jadi. Banyak wajah terpampang dengan manisnya. Kuperhatikan semua, barangkali saja aku temukan lukisan wajah dengan sepasang mata yang garang, wajah keras, kulit legam, dan potongan rambut yang rapi.

Seorang Catalan menyapa. Berbincang tentang jalan-jalan di La Rambla dan mengajakku menuju patung Columbus. Aku menolak dengan senyuman. Petang ini aku ingin sendiri. Mengenang jalan-jalan yang pernah kulalui denganmu, singgah di sebuah restoran, memilih majalah tua di kios-kios koran, bergenggaman tangan, mengenangkan seluruh peristiwa indah. Aku ingat ketika itu kau bersikukuh meminangku di sini.

La Rambla adalah lorong dunia. Sebuah tempat yang akan terus didatangi para pelancong. Kota yang menawarkan keunikan wajah dunia. Langkahku tak lelah menyisir trotoar. Menatap mata-mata ceria, atraksi-atraksi memikat hati, gerak waktu yang semakin mengabur. Kau masih ingat ketika kita berjalan di sepanjang Rambla del Estudis, Rambla Sant Josep, Rambla Caputxins, dan Rambla Sant Monica. Tepat di Rambla Canaletes kau meminangku dan janji setia pun terucap.

“Lam, kita pasti mendatangi tempat ini lagi.”

“Mengapa kau begitu yakin. Bukankah perjumpaan kita hanya berbatas jarak? Jangan mengumbar janji Cal.”

“Aku pegang janji, janji sebagai laki-laki. Beberapa tahun ke depan kita akan datang lagi ke tempat ini. Masih dengan cinta yang sama.”

“Apa yang kamu harap di tahun itu?”

“Kita akan meneguk kembali air dari Canaletes, air perjumpaan.”

“Ya. Seperti saat ini. Bukankah kita baru saja meneguk air perjumpaan.”

“Kupastikan kita akan datang lagi ke tempat ini. Jaga cintamu Lam.”

“Pasti. Akan kujaga bara itu dan akan kurawat cincin pemberianmu ini. Kita tak perlu berjanji untuk pertemuan itu bukan?”

“Ya, kita tak perlu berjanji. Karena takdir akan membawa kita kembali ke tempat ini. Aku yakin itu.”

Kini perjalananku hanya ditemani cincin pemberianmu. Dia tetap melingkar manis menemani setiap langkahku. Menyusuri setiap kenangan yang telah kita jejak beberapa tahun yang lampau.

Dari bandara El Prat, pucuk-pucuk kerinduan semakin mengembang. Rindu itu menawarkan berbagai kisah. Keberangkatan yang sendiri telah menawan aku dalam sebuah rasa yang samar, namun ia semakin jelas. Rasa yang sering kali membuat hatiku sakit. Rasa yang terus kupupuk agar ia tak mati. Waktu adalah bumerang, sering kali melukai hati tanpa mengenal perih. Ya, rindu ini telah menjelaga.

Sosokmu telah kuurai ribuan kali dalam fantasiku. Malam-malam setelah lelah menyapa tubuh, aku larut bersama tubuhmu yang fatamorgana. Meluruhkan kerinduan demi kerinduan yang tak terbatas. Menikmati setiap gerak sublim tubuhmu, kulit kasar lelaki dan buai napas di dadamu. Berkali-kali aku memanggil namamu. Sebuah nama yang singkat, mudah diingat.

Sebenarnya aku belum lelah berjalan, tapi aku ingin duduk menikmati hembus angin. Barangkali saja aroma tubuhmu sampai di penciumanku. Langkahku berhenti di sebuah taman. Kepak burung-burung menemani sendiriku. Berseliweran memotong arah angin. Sayap-sayap putihnya membentuk siluet di angkasa.

Tanganku tak henti-hentinya membidik tingkah polah merpati-merpati itu. Kuatur picture size yang terdapat dalam kamera, aku ingin menghasilkan foto dengan kualitas cetak foto terbaik. Belum puas mengambil gambar satwa terbang itu, kuambil juga gambar bunga-bunga di taman, berbagai jenis dengan warna-warna khas. Tapi di sini tak kujumpai bunga kesukaanku. Suhu yang berbeda dengan negaraku tak dapat menumbuhkan bunga itu.

Kesiur angin mengantarkan aroma khas. Aku ingat benar ini bau tubuhmu yang sempat kautinggalkan di ruang tidurku. Aroma tubuh yang sering kali kuhirup dalam-dalam agar tak cepat pergi, menguap. Kucari-cari sosokmu di tempat ini barangkali saja kau ingin memberiku kejutan dengan kedatangan yang tak diduga. Kuperhatikan sekumpulan orang-orang, pohon-pohon, bayang-bayang yang semakin redup. Akh… kau tetap saja tak kutemukan.

Selesai dengan gambar-gambar yang kuambil aku melanjutkan pencarianmu. Kali ini aku kembali ke air mancur Canaletes. Barang kali kau menunggu di sana dan tengah meneguk percik air itu lagi agar tahun-tahun mendatang kau kembali ke sini. Kulihat pengunjung di sini semakin banyak. Petang yang selalu dinantikan.

Genggam tangan mereka–para lelaki dan perempuan–lagi-lagi mengingatkan aku akan dirimu. Begitu erat membentuk jalin kemesraan. Lengkung bibir yang menyiratkan betapa bahagianya mereka di sore yang semakin gigil. Langkahku pasti menuju Canaletes.

Ini adalah bulan kasih sayang. Sebuah perayaan bagi para pecinta sejati. Mungkinkah cupid-cupid itu tengah melakukan kerja nyata. Menaburkan panah-panah asmara di hati para kekasih. Februari yang damai, kau pun lahir di bulan ini dan tak pernah melakukan sebuah perayaan. Ini tahun keenam, tahun ketika aku merayakan ulang tahunmu tanpa kehadiran dirimu.

Semakin dekat langkahku menuju air mancur itu. Percik air di sana tak pernah terdengar, kalah oleh derap langkah, ceracau-ceracau berbagai bahasa, dan tawa-tawa kebahagiaan. Aku memperlambat gerak tubuhku. Mencermati setiap sisi. Besi-besi, penanda tempat, sudut-sudut tersembunyi. Hatiku berdebar. Seseorang berdiri memunggungiku. Rambutnya yang rapi membuat aku semakin gemetar. Sosokmu, ya itu sosokmu, yang damai menikmati semilir angin. Kau mulai beranjak. Kuperhatikan langkahmu. Tak membalikkan badan. Melangkah meninggalkan pancuran itu setelah puas meneguk air. Aku pun kecewa, itu bukan kau. Langkahmu tak pernah tersaruk-saruk seperti itu. Langkahmu selalu sempurna.

Kedatanganku yang sendiri kali ini selalu ditemani senyum ramah para Catalan. Mereka adalah penduduk Barcelona yang sering kali mengajakku berbincang. Dengan tak lancar aku melayani obrolan-obrolan seadanya. Tentang gedung opera yang berarsitektur neoklasik yang akan kudatangi. Gedung yang mengalami kisah tragis karena dua kali terbakar dan pernah dibom. Gedung opera Liceu yang dibuka kembali ketika kedatanganku yang lampau.

Aku mengelilingi air mancur Canaletes. Mencoba mengulur waktu untuk sebuah kehilangan. Kepergian yang tertunda karena sebuah janji. Sebuah kepercayaan. Kali ini aku tak meminum air di hadapanku. Membiarkannya begitu saja, aku tak ingin kembali lagi ke kota ini. Aku akan meninggalkan semuanya mulai saat ini. Bayang laki-laki yang kupanggil dengan sebutan Cal. Mengapa waktu itu aku tak berjanji dengannya. Mengapa membiarkan datangnya sebuah keajaiban.

Kumainkan kamera, mengambil jejak-jejak kenangan agar semua mengabadi. Menyetel fitur intensitas cahaya dan memilih florescent. Segera kutinggalkan Canaletes menyusur ke arah laut. Kembali melewati deretan gedung-gedung.

Benderang lampu mulai menyapa mataku. Kemilaunya mengingatkan aku pada cincin pemberianmu. Ia masih melingkar dengan manis. Dua inisial nama kuperhatikan baik-baik. Dua huruf yang membentuk bentangan layar sebuah kapal. Aku selalu ingat ceritamu tentang laut. Pelaut-pelaut yang tak pernah takut mengarungi samudra dan itu yang membuat kita berjarak. Kau memilih tinggal bertahun-tahun di perairan. Menjadi nakhoda dan melupakan daratan.

Kini di hadapanku berdiri kokoh seorang Genoa. Patung Columbus yang menunjuk ke laut lepas. Laut yang bagimu adalah rumah, tempat akhir sebuah perjalanan. Kuperhatikan langit saat ini begitu sendu. Sempat juga kupandangi sepasang kakek-nenek yang hendak pulang. Kembali ke rumah untuk beristirahat.

Entah mengapa aku masih bertahan di sini. Menyaksikan pepohonan yang hanya menyisakan ranting-ranting, deretan mobil-mobil yang teratur rapi, pejalan-pejalan yang mungkin tak pernah lelah. Pandanganku tetap mengarah ke ujung patung. Mencari titik yang tepat untuk diabadikan. Kudengar suara langkah yang tersaruk-saruk. Tak kuhiraukan karena konsentrasiku berada di ujung kamera. Blitzz! Renyai cahaya dari bidikan kamera menyilaukan mataku.

“Lam….” tiba-tiba saja tanganku digenggam begitu erat.

 

 

Oleh:  Rama Dira J

Dimuat tanggal 6 Mei 2007 

 

 

DI SUATU subuh yang berkabut, mendadak Maharani terpental ke dalam sepenggal mimpi berwarna kelabu. Semesta kelabu dan segenap isinya juga kelabu. Sisa bulan purnama kelabu, menggelantung di langit kelabu dengan sinar bergeletar karena tertiup angin yang tentunya kelabu. Embun-embun kelabu menetes dari ujung dedaunan kelabu, untuk kemudian jatuh ke tanah yang kelabu. Demikianlah, seluruhnya adalah kelabu.

Di tengah-tengah tanah lapang itu, Maharani melihat ada sekumpulan lelaki yang semuanya berikat kepala, tengah duduk bersila mengelilingi seorang paling tua yang memegang cawan di kedua tangan sambil merapalkan serangkaian mantra.

Angin lembah yang tak henti bertiup terasa membunuh dinginnya. Namun, tak ada di antara orang-orang itu yang merasakan perihnya irisan-irisan tajam angin itu pada kulit kelabu mereka, sebagaimana Maharani.

Maharani memerhatikan mereka satu-satu tapi tak ada wajah kelabu yang bisa dikenalnya, kecuali satu, wajah suaminya. Maharani berusaha mendekat, memegang bahu laki-laki itu, “Mengapa di sini?”

Nyongka seperti tak lagi mengenalinya. Matanya marah, sempat memandang sekejap padanya untuk kemudian berpaling, kembali memejam, terbuai dalam dengung mantra milik sang perapal.

Maharani tak segera meninggalkan tempat itu sampai pada penghujung mantra dan orang-orang itu kemudian secara bergiliran meminum cairan darah dalam cawan, yang warnanya tidaklah merah sebab seperti sudah ditakdirkan, semua yang ada di dalam mimpi itu berwarna kelabu semata.

Usai semuanya mendapat giliran, mereka mulai meraung, memukul-mukul tanah, berdiri, mengambil pedang masing-masing, lantas terbang satu-satu bersama angin yang menghembus ke arah pemukiman suku Radu, di kampung sebelah.

Mimpi itu belum tuntas ketika Maharani mendapati tubuhnya telah basah peluh, masih terbaring di dalam pelukan Nyongka. Hembusan napas hangat milik sang suami yang baru menikahinya dua minggu yang lalu itu terus menyapu tengkuknya, membuat bulu-bulu halus di sana bergeletar.

Maharani berusaha bangkit menuju jendela, membuka dua daunnya. Ia melihat, semesta di luar yang menyungkup pemukiman suku Radu itu masihlah larut dalam pekat sisa malam. Ia tak lagi bisa memejam kembali sebab pikirannya terus menerawang, menerka-nerka apa gerangan yang dibawa oleh mimpi itu, sampai matahari muncul dari balik perbukitan.

Bertahun-tahun sebelumnya, sebelum menikah dengan Nyongka, ia memang pernah mendengar, ritual semacam yang ada di dalam mimpinya itu adalah ritual yang biasa dilakukan suku Ayal sebelum berangkat menuju medan perang. Sebagai orang Ayal, Nyongka pernah menceritakan pada Maharani (Maharani adalah keturunan suku Radu, sedangkan Nyongka adalah keturunan suku Ayal yang memutuskan untuk bermukim di pemukiman suku Radu setelah menikahi Maharani) bahwa sebelum berangkat perang, kaum laki-laki suku Ayal biasanya melakukan ritual cawan merah. Mereka berkumpul untuk meminum secara bergiliran darah hewan yang ditampung dalam satu cawan sebagai upaya untuk mendatangkan kekuatan, sebab setelah usai meminum darah itu, maka roh yang ada di dalam tubuh si peminumnya bukan lagi roh mereka sendiri tapi sudah menjelma menjadi roh perang. Jika sudah kemasukan roh ini, mereka adalah sosok yang baru, prajurit perang yang tak terkalahkan, tak bisa mati, sebab mereka memiliki berlapis-lapis nyawa.

*****

SEBAGAIMANA malam-malam sebelumnya, malam ini Maharani termenung bimbang, ketika tiba-tiba suaminya duduk terbangun dan merasa aneh menemukan fakta bahwa istrinya duduk membeku di samping dipan bambu pada saat semestinya ia tidur pulas sebagaimana dirinya sebab malam masihlah pekat. Tak bisa tidak, ia pun bertanya.

Mulanya Maharani berusaha mengelak. Ia menggeleng, menegaskan tidak terjadi apa-apa. Namun kemudian, Nyongka tak segera percaya. Ia terus mendesak Maharani sampai kemudian bersedia menceritakan mimpi berwarna kelabu yang selalu menyerang tidurnya dalam malam-malam terakhir ini.

Mimpi itu, sungguh mendatangkan perasaan mencekam pada Maharani. Sampai-sampai, segenap peristiwa yang ada di dalamnya terasa seperti rekaman gambar nyata yang terpampang di depan matanya. Namun, selalu, mimpi itu tak pernah tuntas. Tak berujung, hingga kemudian menyebabkan pikiran Maharani selalu galau, terpaksa menduga-duga apa yang akan terjadi sesudah itu.

Mendengar itu, Nyongka seperti tersihir sesuatu. Perasaannya menjadi bimbang. Ada semacam kekhawatiran yang mendadak menghajarnya apalagi dalam mimpi itu ada dia bersama segerombolan lelaki lain, tengah melakukan ritual cawan merah.

“Benarkah itu?” Ia masih meragukan Maharani.

“Tentu! Aku tak mungkin membual!”

“Sungguh aneh…”

“Aneh bagaimana?”

Nyongka tak menjawab pertanyaan Maharani. Ia membatin, ‘Bukankah perang suku sudah lama tak terjadi? Bukankah ritual cawan merah sudah lama dibuang?’ Pikiran berlanjut menyisir menuju masa lalu. Kala itu ia masihlah bocah. Di lembah pemukiman suku Ayal, ia menyaksikan sendiri bagaimana Ayahnya berupaya melerai beberapa lelaki Ayal yang berencana melakukan ritual cawan merah sebelum terlibat dalam perang suku dengan suku Radu di kampung sebelah. Seperti biasanya apa yang menjadi penyebab rencana penyerangan itu adalah masalah saling mengakui siapa sesungguhnya yang layak menempati kawasan lembah itu seluruhnya. Suku Ayal, sebagai suku asli yang sudah sejak lama menempati wilayah lembah itu merasa lebih berhak untuk tinggal di sana, sementara suku Radu yang adalah suku pendatang, tak mau begitu saja pergi meninggalkan wilayah yang sudah mereka tempati. Kedua pihak tak ada yang mau mengalah, sepakat mengadu kekuatan sampai nyawa pungkas. Siapa yang tak mati, dialah pemilik lembah itu. Sampai pada perang suku yang kesekian puluh kalinya, memang tak ada lelaki dari suku Ayal yang meninggal dalam perang suku. Korban yang meninggal semuanya dari pihak suku Radu.

Ketika Ayah Nyongka menjabat sebagai kepala suku Ayal baru, dialah yang kemudian mau mengambil jalan damai dalam menyelesaikan konflik yang terjadi antara dua suku yang mendiami lembah di kaki gunung itu. Sebagaimana yang disaksikan oleh Nyongka kecil, hal pertama yang dilakukan oleh Ayah Nyongka adalah mendatangi kumpulan lelaki yang akan melakukan ritual cawan merah tadi. Ia mencoba menenangkan mereka dan meyakinkan bahwa penyelesaian masalah dengan pertumpahan darah itu telah membuat roh-roh nenek moyang marah. Para roh nenek moyang tak mau lagi tanah lembah ini dikotori oleh anyir darah.

Sekelompok lelaki ini tak bisa menentang apa yang dikatakan oleh Ayah Nyongka sebagai kepala suku yang baru. Mereka juga mengiyakan rencana Ayah Nyongka untuk mendatangi kepala suku Radu demi menawarkan jalan damai, tidak dengan tumpah darah sebagaimana lazimnya terjadi.

Ayah Nyongka dengan beberapa lelaki dari pemukiman suku Ayal mendatangi pemukiman suku Radu keesokannya dan pulang dengan kabar yang melegakan. Telah disepakati jalan damai. Tanah milik suku Ayal yang sempat diakui sebagai milik suku Radu dikembalikan. Dan sejak saat itulah suku Radu dan suku Ayal sepakat untuk tak lagi terlibat dalam perang suku yang acap kali mengacaukan kehidupan kedua pihak di lembah itu. Semenjak itu pula ritual cawan merah tak lagi dijalankan oleh suku Ayal.

“Seharusnya tak ada lagi ritual cawan merah, meski hanya di dalam mimpi… “

Pembicaraan suami istri itu tak berujung pada kepastian. Kedua-duanya gundah, kedua-duanya tak bisa memejam meski mereka telah berusaha.

******

DI suatu subuh lain yang berkabut, Maharani terbangun. Ia tak mendapati Nyongka di sampingnya. Ia terus mencari-carinya ketika mendengar ribut-ribut di luar, teriakan-teriakan panik.

“Perang pecah. Perang pecah. Suku Ayal menyerang…”

Perkampungan suku Radu itu rusuh. Semuanya kacau balau. Kabarnya, para lelaki suku Ayal sudah berada di ujung Selatan perkampungan. Mereka menyerang membabi buta. Mereka telah membunuh banyak orang Radu sementara mereka sendiri, tak bisa terbunuh. Tanpa sepengetahuan Maharani, sehari sebelumnya telah terjadi perebutan tanah antara beberapa orang suku Ayal dan suku Radu di wilayah perbatasan. Tak ada kesepakatan damai yang tercapai, hingga pecahlah perang sebagaimana yang sering terjadi dua puluh tahun yang lalu.

Maharani pun menjadi panik, apalagi Nyongka tak ada bersamanya. Belum reda kepanikan Maharani, ia mendengar suara keras pada pintu yang dihasilkan oleh upaya beberapa orang untuk merobohkannya. Pintu ambruk dan dari dalam, ia bisa melihat, segerombolan lelaki berikat kepala, langsung memandang tajam padanya. Sebelum lelaki tertua masuk, Nyongka yang juga serta dalam rombongan itu, menghalanginya.

“Perempuan yang satu ini, biar aku yang membunuhnya.”

Lelaki tertua mengalah dan memberi kesempatan kepada Nyongka untuk menuntaskan hasrat membunuhnya meski sesungguhnya ia sudah menghabiskan ratusan nyawa milik orang Radu, sebelum mencapai rumah ini. Dalam perang suku kali ini, suku Ayal tak hanya menyerang kaum lelaki. Mereka menyerang siapa saja orang yang memiliki aroma tubuh kas milik suku Radu. Lelaki, perempuan, anak, bayi, semuanya.

Nyongka melangkah maju, Maharani mundur dengan gerak yang tak kuasa menahan beban badan. Beberapa kali ia terduduk untuk kemudian susah payah berusaha bangkit dalam cekaman perasaan tak menentu. Maharani berusaha terus memandang suaminya dengan sepasang mata yang mulai berkaca-kaca. Ia tahu pasti, meski itu adalah Nyongka, roh yang ada di dalam tubuh itu tak akan mengenalnya. Sebentar lagi, ia akan mati dalam tangan orang yang paling dicintai. Dalam detik-detik terakhir menjelang Nyongka menghujamkan pedang ke tubuhnya, ia hanya pasrah. Sebenarnya ia ingin membisikkan ucapan selamat tinggal dengan penuh rasa sayang. Namun, ia tak segera bisa melakukannya.

Nyongka sudah tak berjarak dengannya. Namun, Nyongka tak juga segera menghujamkan pedang. Ia justru menarik lengan Maharani lantas membawanya bergegas menerobos pintu belakang, menaruh kedua lengan Maharani pada pundaknya untuk kemudian ia bawa terbang, terus meninggi perlahan, melintasi angin, terus menuju ke arah langit subuh yang tak berbintang. Di bawah mereka, terdengar teriakan para lelaki yang mengumpat, menyumpahi Nyongka yang telah meloloskan seorang perempuan suku Radu yang seharusnya ia bunuh itu.

Maharani terus terbang, melintasi waktu, mengitari semesta, dengan terus erat di punggung Nyongka yang tiba-tiba hilang dan menyisakan dirinya sendiri, terjatuh ke bawah, dalam hempasan angin, layaknya sehelai bulu merpati, terjatuh perlahan, hingga mencapai taman bunga yang indah, di dunia yang entah. Maharani kebingungan mencari. Ia memandang ke atas, tak juga bisa menemukan Nyongka di mana.

Mimpi itu usai, Maharani bangun. Baru kali inilah mimpi berwarna kelabu itu sampai pada akhir yang demikian. Ia puas, ia tersenyum sebab ia kini telah mengetahui akhir yang sesungguhnya.

Namun, senyuman itu segera berakhir karena tak ada Nyongka di sampingnya.

Pangkalpinang, 17 April 07

Kuinginkan tubuhmu
dari zaman
yang tak punya tanda,
kecuali warna sepia.

Pundakmu
yang bebas ,
akan kurampas
dari sia-sia.

Akan kuletakan sintalmu
pada tubir meja:
telanjang
yang meminta

kekar kemaluan purba,
dan zat hutan
yang jauh, dengan surya
yang datang sederhana.

Akan kubiarkan waktu
mencambukmu,
lepas. Tak ada yang tersisa
dalam pigura

juga api yang tertinggal
pada klimaks ketiga,
juga para dewa, juga kau
yang akan runduk

Kematian pun akan masuk kembali
kembali, kembali…
Mari.
Kuinginkan tubuhmu

dari zaman
yang tak punya tanda
kecuali
warna sepia

1996

TIGRIS

Sungai demam
Karang lekang
Pasir pecah
pelan-pelan

Gurun mengerang: Babilon!
Defile berjalan

Lalu Tuhan memberi mereka bumi
Tuhan memberi mereka nabi

Antara sejarah
dan sawah
hama
dan Hammurabi

Setelah itu, kita tak akan di sini

Kau dengarkah angin ngakak malam-malam
ketika bulan seperti
susu yang tertikam
ketika mereka memperkosa
Mesopotomia?

Seorang anak berlari, dan seperti dulu
ia pun mencari-cari
kemah di antara pohon-pohon tufah

Jangan menangis.

Belas adalah
Iblis karena Tuhan telah menitahkan airmata
jadi magma, bara yang diterbangkan bersama
belibis, burung-burung sungai yang akan
melempar pasukan revolusi
dengan besi dan api
“Ababil! Ababil!” mereka akan berteriak.
Bumi perang sabil.

Karena itulah, mullah, jubah ini
selalu kita cuci dalam darah di tebing
Tigris yang kalah
Dari Najaf ada gurun. Kita sebrangi
dengan geram dan racun. Dan tiba di Kerbala
akan kita temui pembunuhan
yang lebih purba.

(Ibuku. Seandainya kau tahu kami adalah anak-anakmu)

1986

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.