BAGI orang yang paham benar dengan budaya Jawa, maka dapat dipastikan akan dengan mudah mengetahui bahwa aku adalah orang Jawa hanya melalui nama yang kumiliki. Sebab, namaku memang khas Jawa, yaitu Waginem. Semasa kecil, teman sepermainan memanggilku dengan sapaan Yu Ginem. Bagiku, panggilan yang terkesan ‘ndesani’ ini tak banyak pengaruhnya. Apalagi aku memang hidup di desa. Nama yang mirip dengan namaku cukup banyak. Misalnya anak Mbok Sapar itu bernama Wagiyah, dan adiknya bernama Tukinem. Nama-nama ini jelas merupakan ‘trade mark’ anak desa yang tinggal di desa dalam masyarakat Jawa. Pada umumnya mereka pun menerima dengan ikhlas ketika mendapatkan panggilan ‘Giyah, Kinem. Memang, ada sebagian dari anak desa yang kemudian menggantikan namanya dengan nama yang terkesan lebih mencerminkan sebagai orang kota. Walau mereka kadangkala berstatus sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga yang cukup kaya.
Berganti panggilan memang terjadi pula pada diriku. Hal ini terjadi sejak aku menjadi suami Mas Susanto, maka nama kecilku seakan musnah tak berbekas. Pada umumnya tetangga menyebutku dengan sapaan Bu Sus atau Bu Santo. Bahkan kedua orang tuaku pun tak lagi memanggilku dengan sapaan Ginem setelah aku punya anak pertama. Nama anakku pertama adalah Heri, maka kedua orang tuaku pun sering menyebutkan dengan sapaan ‘Ibune Heri’. Hanya saja, ketika aku pulang ke desa, pada tahun-tahun awal perkawinanku, masih ada sejumlah teman yang memanggilku dengan nama asliku, Waginem. Namun, tampaknya Mas Santo – biasa aku memanggil suamiku – kurang berkenan jika ada teman lamaku memanggilku dengan nama asliku itu. Entah siapa yang memberitahukan kepada teman-temanku di desa – aku tak tahu – sikap suamiku ini diketahui oleh mereka. Sehingga dalam waktu-waktu berikutnya, setiap aku datang ke desa kelahiranku, tak ada lagi teman-temanku masa kecil yang memanggilku dengan nama kecilku.
Sebagai orang Jawa, aku memang akrab dengan berbagai perilaku orang Jawa pada umumnya. Hanya saja, ketika ibuku – yang biasa aku memanggilnya dengan sebutan ‘simbok’ – menyatakan bahwa sebagai isteri aku harus punya prinsip ‘swarga nunut neraka katut’, aku menolaknya mentah-mentah.
‘’Itu kodratmu Nduk sebagai wanita Jawa,’’ begitu kata ibuku ketika mendengar penolakanku.
‘’Tapi, itu sudah nggak njaman lagi, Mbok,’’ kataku membela diri.
‘’Tapi, kamu sendiri kan sudah mempraktikkannya, kan?’’ tanya ibuku dengan suara datar.
‘’Aku sudah mempraktikkan? Apa maksud Simbok?’’ tanyaku tak mengerti dengan maksud ucapannya sebagai bantahan dari sikapku.
‘’Lha itu, namamu. Kamu kan bernama Waginem, tapi sekarang kau rela atau malah senang, jika dipanggil dengan sebutan Bu Sus atau Bu Santo. Betul, kan?’’ tanya ibuku dengan nada agak bercanda.
Untuk beberapa saat aku terdiam. Dalam batinku secara tiba-tiba muncul pergulatan konflik; antara menerima ucapan ibuku sebagai fakta dengan sikapku yang menolak konsep’ swarga nunut neraka katut’ sebagaimana yang dikatakan oleh ibuku.
‘’Gimana, betulkan Nem? Eh, Bu Santo,’’ kata ibuku masih dengan nada canda.
Meskipun ucapan ibuku bernada canda, namun hal ini sempat membuatku kaget juga.
‘’Tapi, ini lain to Mbok,’’ kataku tiba-tiba yang terkesan asal ucap saja.
‘’Nduk, kamu ini memang lucu,’’ kata ibuku sambil tertawa.
Benarkah karena aku sebagai wanita Jawa harus mempunyai prinsip hidup seperti yang dikatakan oleh ibuku? Kataku dalam hati. Tapi, mengapa aku harus ‘nunut’ jika aku sendiri ingin masuk sorga? Dan mengapa aku harus ‘katut’ jika suamiku masuk ke neraka? Itulah berbagai pertanyaan yang mau tak mau selalu mengusik diriku.
‘’Kalau kamu nggak mau seperti itu, ya jangan mau to Nduk dipanggil Bu Santo atau Bu Sus. Mestinya kamu harus tetap ingin disapa Bu Waginem,’’ kata ibuku lagi.
Mendengar ucapan ini, aku hanya diam. Dalam batinku pun muncul lagi konflik, antara membenarkan dan sekaligus menyalahkan apa yang baru saja dikatakan oleh ibuku.
Hanya saja, dalam hari-hari berikutnya aku tetap rela untuk dipanggil dengan sebutan Bu Sus atau Bu Tanto, walaupun aku tetap bersikap menolak tentang prinsip yang dikatakan oleh ibuku.
Sebagai orang Jawa – meskipun wanita – aku juga agak akrab dengan wayang. Bahkan dalam benakku, wayang dengan budaya Jawa sangat erat kaitannya. Banyak perilaku kehidupan orang Jawa cocok dengan nilai-nilai ada dalam dunia pewayangan. Hanya saja, sampai saat ini, aku tak pernah menemukan sosok wanita yang kuanggap sebagai idola dalam dunia perwayangan. Kunti, isteri Pandu, aku tak punya respek kepada tokoh ini. Dalam bayanganku, tokoh ini gambaran sosok wanita yang tidak setia kepada suami. Bahkan perselingkuhannya pun sempat membuahkan hasil anak tidak hanya satu tapi lebih. Padahal, aku menyadari bahwa sebagai wanita aku harus setia kepada suami. Sungguh kedurhakaan jika aku mencoba mengkhianati suami dengan cara berselingkuh.
Sinta, tokoh dalam kisah Ramayana pun, bagiku bukan tokoh wanita idola. Bagiku tokoh ini menggambarkan sebagai sosok wanita yang tak pernah menuai kebahagiaan. Bahkan tokoh ini masih disangsikan kesuciannya oleh suaminya sendiri. Srikandi atau isteri Arjuna yang lain, bagiku bukan pula merupakan sosok tokoh idola.
***
‘’Jadi kamu akan mengizinkan jika suamimu akan menikah lagi dengan wanita lain?’’ begitulah tanya Lastri teman sekantorku di kantin kantor ketika kami sedang mengobrol sewaktu jam istirahat.
‘’Kalau memang itu membuat suamiku bahagia, mengapa tidak?’’ kataku sambil tetap menikmati gado-gado kesukaanku.
‘’Wah, mestinya kamu ini hidup pada zaman Siti Nurbaya,’’ kata Lastri setelah mendengar ucapanku tadi.
‘’Siapa itu Siti Nurbaya,’’ kataku berlagak tidak tahu dengan nama Siti Nurbaya yang dikatakan oleh Lastri.
‘’Itu, lho tokoh dalam buku sastra yang sering diajarkan oleh guru kita di SMP dulu,’’ ucap Lastri dengan penuh semangat.
‘’O, itu?’’ tanyaku seakan mulai paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Lastri.
‘’Terus, kalau aku cocok hidup di zaman Siti Nurbaya, mengapa?’’ kataku lagi sambil menikmati es teh pesananku.
‘’Sikap hidupmu hanya cocok pada masa itu,’’ kata Lastri kemudian mencoba menjawab pertanyaanku.
‘’Kok, bisa?’’ kataku yang agak kurang paham dengan apa yang baru saja dikatakan olehnya.
‘’Pada masa itu kan ibaratnya seorang isteri harus taat kepada suami,’’ kata Lastri mencoba memberikan penjelasan.
‘’Lho, apa sekarang seorang isteri itu tidak perlu taat kepada suami?’’ kataku lagi mencoba meluruskan apa yang baru saja dikatakan oleh Lastri.
‘’Tapi, bukan begitu caranya,’’ ujar Lastri yang terkesan untuk membela diri dan menguatkan pendapatnya.
‘’Bagiku sebenarnya masalahnya justru terletak pada komitmen seorang isteri dalam keinginannya untuk membahagiakan suami,’’ kataku mencoba memberikan penjelasan tentang prinsip hidupku dalam hidup berumah tangga.
Sejak aku resmi menjadi istri Mas Susanto, aku membangun sebuah komitmen untuk selalu berupaya membahagiakan suami. Bagiku, kebahagiaan suami adalah segala-galanya. Sebab, kebahagiaan suami bagiku identik dengan kebahagiaanku pula. Menurut logikaku jika suami istri berbahagia, maka berbahagialah keluarga itu. Demikian pula untuk sebaliknya. Hanya saja, anehnya, sikap hidupku semacam ini justru dianggap aneh oleh teman-temanku, termasuk Lastri, teman sekantorku.
‘’Rasanya sangat sulit untuk dapat memahami sikap hidupmu Bu Sus,’’ kata Bu Rokhayah tetanggaku sebelah. Tampaknya, tetanggaku ini juga sependapat dengan Lastri teman sekantorku berkaitan dengan prinsip dalam kehidupanmu berumah tangga.
‘’Jadi, andaikan suami menceraikan Bu Sus, maka Bu Sus juga akan menerimanya?’’ katanya kemudian dengan nada yang cukup serius.
‘’Ya, jika…’’ kataku yang sengaja tidak kulanjutkan. Hal ini aku lakukan untuk mengetahui bagaimana sikap Bu Rokhayah terhadap jawabanku ini. Tampaknya, dengan jawabanku ini Bu Rokhayah seakan semakin terpacu untuk meminta penjelasan lebih lanjut tentang jawabanku tadi.
‘’Jika apa?’’ tanya beliau dengan nada yang terkesan sangat antusias.
‘’Jika hal itu memang dapat membuatnya bahagia,’’ kata pelan melengkapi jawabanku sebelumnya.
‘’Gila,’’ terdengar olehku ucapan Bu Rokhayah dengan nada suara yang nyaris tak terdengar.
‘’Siapa yang gila, Bu?’’ tanyaku dengan nada heran.
Mendengar pertanyaanku ini, aku lihat Bu Rokhayah agak terkejut. Mungkin ia tidak mengira jika ucapannya tadi terdengar olehku meski hanya diucapkan dengan nada yang sangat lirih.
‘’Ah, nggak ada,’’ jawabnya dengan gaya seseorang yang mencoba menutup rasa malu.
***
Sesuai dengan rencana kami berdua, aku dan Mas Santo, malam ini mengundang sejumlah sahabat ke rumah. Kami berdua berkeinginan untuk merayakan hari ulang tahun ke-25 perkawinan kami. Menurut kami, hari yang sangat bersejarah ini pantas untuk dirayakan, meski hanya sangat sederhana, yaitu mengundang sejumlah sahabat untuk makan malam di rumah.
Tepat pukul setengah delapan malam, sejumlah sahabat yang kami undang nyaris telah hadir semua. Memang ada beberapa sahabat yang sebelumnya memberi tahu akan datang terlambat, karena masih ada urusan yang harus diselesaikannya. Namun, mereka berjanji akan hadir dalam pertemuan yang kami selenggarakan.
Setelah ada sambutan dan ucapan selamat datang yang disampaikan oleh Mas Susanto yang waktu itu aku berdiri di sampingnya, maka acara ramah tamah pun dimulai. Di awal acara itu, secara bergiliran para tamu menyampaikan ucapan selamat kepada kami dengan cara berjabatan tangan. Mereka menyatakan salut atas prestasi kami yang telah mampu membangun mahligai rumah tangga selama dua puluh lima tahun. Bagi mereka hal ini memang sebuah prestasi yang pantas untuk disyukuri dan dirayakan.
Di sela-sela ramah tamah itu, tiba-tiba Lastri mendekatiku dan kemudian bertanya.’’ Jadi, Mas Sus tak pernah berniat untuk menikah lagi dengan wanita lain?’’
‘“Seperti kau lihat sekarang ini,’’ jawabku dengan tersenyum.
‘’Dan…?’’ tanyanya kemudian yang sempat aku potong.
‘’Tidak menceraikanku? Tanyaku kepada melengkapi pertanyaannya yang sempat aku potong.
‘’Ya,’’ jawabnya pendek.
‘“Seperti kau lihat sekarang,’’ kataku masih dengan tersenyum.
‘’Mengapa demikian?’’ tanyanya lagi dengan nada suara yang terkesan bersemangat.
‘’Mau tahu, ya?’’ tanyaku dengan nada berseloroh.
‘’Ya’’, jawabnya pendek.
‘’Dulu kan pernah aku katakan bahwa bagiku kebahagiaan suami adalah segala-galanya,’’ kataku yang kali ini dengan nada serius.
‘’Betul,’’ katanya pendek, ‘’Terus?’’
‘’Dan kamu tahu apa kebahagiaan Mas Santo?’’ tanyaku kepadanya.
‘’Nggak,’’ katanya pendek.
‘’Kebahagiaan Mas Santo itu adalah…’’ kataku yang sengaja tak kelanjutannya. Aku ingin mengetahui bagaimana responsnya ketika mendengar ucapanku tadi.
‘’Adalah apa?’’ tanyanya dengan nada yang sangat serius.
‘’Mas Santo merasa bahagia jika hanya mencintaiku seseorang,’’ kataku dengan nada mantap.
Mendengar ucapanku ini aku lihat wajahnya agak berubah. Mungkin ia tidak mengira jika kebahagiaan suamiku adalah mencintaiku seseorang. Dengan kebahagiaannya semacam ini, maka tidaklah terlalu salah jika aku menyatakan bahwa membuat suami bahagia adalah segala-galanya bagiku.
Begitu aku memberikan penjelasan itu kepada Lastri, terdengar suara dari pembawa acara bahwa pesta syukuran telah usai. Para tamu pun mulai meninggalkan rumahku satu per satu. ***
Makamhaji, 3 September 2004.
ternyata karya babe gw ada jg di internet…gak menyangka….duh ……