Feeds:
Posts
Comments

Tanpa Judul

Temaram senja yang mengantar matahari pulang
gelap pada langit menatap tajam
sesekali terdengar ringkihan bumi
ketika malam menjelang subuh
tanah berterima kasih pada malam
yang datang telat
setelah lelah berteriak mengutuk matahari
pohon meranggas, menghijau kembali
dedaunan bernyanyi
diiringi musik angin-angin
ada yang datang telat
rembulan yang sepotong menggantung
bersenda dengan bintang gemintang
senja, malam, angin, tanah, dedaunan
rembulan dan bintang
berbincang heran tentang manusia

======================

Kau bilang kau luka, kubilang tahan saja
Kau bilang kau lara, kubilang biasakanlah
Kau bilang kau sepi, kubilang yang asing akan terasa biasa
Kau bilang kau bingung, kubilang bilang saja semuanya
Kau bilang mengapa mereka tak mengerti, kubilang kau diam, mereka juga diam
Kau bilang dia siap menanti, kubilang tunggulah sampai jemu tiba
Kau bilang aku cocok, aku bilang pikir dulu
Kau bilang aku perhatian, kubilang itu biasa
Kau bilang aku dewasa, kubilang ku kagum padamu
Kau bilang aku romantis, kubilang masa iya?
Kau bilang datanglah, kubilang tak saat ini
Kau bilang takut mencintaiku, kubilang kuterima

Maka biar saja waktu menghukum kita

==========================

matahari garang
udara gersang
nafas sesak
dari celah jendela, memantul cahaya emas
diluar, bocah-bocah legam
sedang aku, mengamati mereka dengan secarik kertas

=============================

simpan senyummu
untuk dia saja
jangan bertanya
hatiku murka
bergetar,menggelegar,menghalilintar
biar aku disini
membacamu di negeri laknat
sebab cinta kita telah tamat

===================

tak usah kau risau
aku sudah punya dunia sendiri
dunia puisi
dunia imaji
dunia tanpa basa basi

tak perlu kau resah
aku sudah punya kawan sendiri
pena, kertas dan puisi
mengajakku menari
bermain diksi
memberi sensasi

:sebab pada lengkung langitmu aku tak lagi perduli

==========================

jika aku debu
kau angin
jika aku mendung
kau hujan
jika aku embun
kau panas
jika aku air
kau banjir
jika….
kau….
aku beterbangan
aku hilang
aku menguap
aku terkoyak
kau!

==================

Langit, tumpahkan
Bumi, hentakkan
air jadi mala

cinta, enyah!
hati, mati!
aku jadi batu

kamu bercerita kepada sahabatmu tentang layangan koyak.
esoknya, sahabatmu bercerita kepada seorang perempuan, bahwa kamu telah mati.

Sajak Kehilangan

Nisan

Bukan nisan itu  sedih sungguh
Jua bukan gunduk tanah merah
Takut batin rontok
Kala bayangnya hadir

Bukan kehilangan benar menyayat hati
Tapi hati menangis ketika
Suatu pagi tak kulihat dia menengadah do’a
Datang saja kematian…datang saja
Tapi bawa juga pergi bayangnya
Aku lebih tak perduli pada hilang
Asal raib juga seluruh kenang

Kabar Izrail

Malam-malam begini sepi pula
Tak ada juga desir angin
Anjing yang biasa melolong siapa yang bunuh?
Kulihat di meja pisau masih tergeletak
Mengkilat terbias cahaya lampu
Tentu asik memutus nadi dengan itu
Hey..ada yang menghampiri pintu rumah
Lihat!
Dia tersenyum…dan mengucap salam
Dalam terkesima
Lantas kudengar hembusan nafas terakhir

Jika bukan…

Jika bukan kenang yang lekat
Lantas apa artinya kehilangan?
Terngiang titah keberanian
Sedang yang ada kini hanya gambar dan sedikit cerita
Alif, ba, ta, kau mengeja
Alfa, beta, lidahku kau latih
Tahukah apa yang paling kurindu?
Ketika di pantai kau ajari aku lari
Menghadang gelombang
Dan pada karang yang kokoh
Kita niscaya belajar
Tapi haruskah sampai kini?

Sedang pada bayang aku tak mau takluk

Sore yang tak luput

Sore pada hari yang meranggas
Setelah maut yang datang bergegas
Kami berbaris mengucap selamat kembali
Setelah bermalam-malam kami lelah
melihatmu menanti….
Tenang, kami tak larut dalam duka
Kami yang masih disini
Ingin lebih darimu
Tanah begitu bersahabat
Tersenyum dan merangkulmu

Bahagiakah engkau kelak?

Cerpen: Yanusa Nugroho
Sumber: Suara Pembaruan,  Edisi 01/23/2005 

DALAM diriku ada sebuah parit hitam. Aku bisa melihatnya, merasakannya, namun tak sanggup mengendalikannya. Parit hitam misterius yang ada dalam diriku ini, entah sejak kapan ada di sana. Dia hanya berkelok-kelok, mengalir tanpa hulu dan hilir, mencoba mendesakkan arusnya dan menghanyutkanku dalam alirannya.
Dia tidak hanya kelam, mengalir kental dalam diam, namun sekaligus mengepulkan asap-asap aneh yang setiap kali membuatku lumpuh. Tak bisa lagi aku mengungkapkan rasa jijikku padanya; pada sesuatu yang telah menjadi bagian dari diriku ini. Dalam kegelisahanku, kadang aku sempat bertanya, apakah ini sebuah hukuman bagiku, ataukah sebuah rencana besar yang entah mengapa tak bisa kusaksikan keindahannya.


*

Yang kuingat, aku dibesarkan di sebuah keluarga besar. Aku tumbuh dengan satu pengertian bahwa hanya malamlah, satu-satunya saat di mana aku bisa merasakan keheningan. Hanya malamlah, satu-satunya saat di mana aku bisa mereguk kelembutan. Ya, kelembutan; tanpa makian, cacian, umpatan dan tangisan. Dalam kelam malam bisa kusaksikan indahnya cahaya rembulan. Dalam kelam malam bisa kuikuti kepak kelelawar menangkap serangga. Kehidupan hanya bisa kujalani di malam hari. Begitu kuatnya daya pesona malam bagiku, sampai-sampai aku tak ingin memejamkan mata di malam hari.

Sering kali aku mengkhayalkan diriku memiliki sepasang sayap angsa putih. Dan dengan sepasang sayapku itu, aku bisa terbang bebas mencapai rembulan. Aku ingin membawa diriku bergulingan di awan putih kapas, atau menyelusup dalam pekatnya mendung di awang-awang.

Nyanyian alam, di malam hari, begitu merdu dan murninya. Kata eyang kakung, ketika itu, tepat jam dua belas malam hari, para malaikat turun ke bumi. Ada yang membawa pundi-pundi uang, ada yang membawa wewangian surgawi bagi mereka yang belum lelap digulung kelam. Kata eyang pula, bahwa Tuhan sangat begitu perhatian pada malam hari, dan karenanya, siapa pun yang memanjatkan doa di malam buta akan lebih mudah terkabul. Mungkin itu yang membuatku begitu bahagia menikmati malam.

*

Aku ingat sesuatu, ketika umurku masih 8 tahun. Waktu itu, ayahku habis bertengkar dengan ibu; sebuah pertengkaran biasa dan seolah menjadi napas hidup keluarga kami. Ayahku merokok di depan rumah. Dia mengenakan sarungnya dan duduk di balai-balai, memandangi kegelapan malam.

Dengan diam aku langsung saja minta pangku. Ayah mematikan rokoknya dan segera meraihku ke dalam pelukannya. Meskipun masih panas oleh sisa marah, ayah tak bisa menghardikku, entahlah. Lama kami tak berkata apa-apa. Seakan membiarkan kesenyapan mengalir entah menuju muara mana.

Setelah menit-menit hening itu melenggok-lenggok beberapa saat, tiba-tiba kudengar suara parau ayah mengusir sepi.

“Kalau ayah pergi, kau harus bisa mengurus rumah…,” ucapnya seolah diriku adalah bagian dari sebuah pembicaraan panjang yang entah sejak kapan dimulainya.

“Ayah mau ke mana?” tanyaku dengan suara hampir-hampir sedatar kesenyapan.

Ayah diam saja. Dia tak yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya kepadaku.

“Kalau ayah pergi, Ade minta pangku siapa?” tanyaku.

Aku yakin ayah cuma tersenyum. Aku sendiri tak melihatnya, namun bisa merasakannya lewat keheningan yang mengalir perlahan di hadapan kami.

Tiba-tiba aku membayangkan sesuatu yang aneh. Aneh sekali, bahwa di rumah tak ada ayah dengan sarung tambalannya, dengan asap rokok dan secangkir kopinya. Sejak ingatanku bisa menangkap isi rumah ini, ayahlah yang paling sering dan paling kuat melekat di ingatanku. Dialah orang yang paling diam, sekaligus paling keras suaranya bila sudah marah. Kakak-kakakku semuanya pernah merasakan pukulan tangan ayah. Ibu, kurasa juga pernah, hanya saja aku tak pernah secara langsung menyaksikannya.


*

Sebelum aku lahir, ayah adalah pekerja pabrik alat rumah tangga yang terbuat dari plastik. Entah karena apa, ayah dipecat dan pesangonnya tak cukup untuk mengisi perut-perut di rumah kami. Kakak-kakakku banyak yang kemudian berhenti sekolah. Ada yang bekerja menjadi kuli bangunan, ada yang agak baik: bisa menjadi sopir, tapi selebihnya tinggal di rumah; menjadi hiasan tak sedap di setiap sudut rumah.

Sebulan setelah ayah dipecat, aku lahir selamat. Tak ada keistimewaan apa-apa yang menandai kelahiranku. Ayah tak menunjukkan kegembiraan, ibu juga demikian. Semua saudaraku sepertinya sudah biasa menghadapi bayi baru; dan aku bukan hal baru bagi mereka. Hanya eyang kakung, yang sudah agak pikun itu yang dengan kekeh geli ketawanya menyambut kehadiranku di dunia. Beliau pula yang menanam ari-ariku, mengijingnya dan memberinya pelita minyak di malam hari.

Namun, kata ibu, dua jam setelah kelahiranku, ibu mengalami perdarahan hebat. Menurut bidan, ada luka di dalam perut ibu. Darah yang mengucur dari rahim ibu, seperti tetesan air dari kran yang bocor. Darah menggenang. Ayah panik. Ibu makin memucat. Bidan akhirnya memanggil dokter. Dokter menyarankan agar ibu dibawa ke rumah sakit yang agak besar untuk mendapatkan perawatan intensif.

Detik-detik begitu cepat berlalu. Ayah hanya pasrah karena tak tahu dengan apa nanti dia harus membayar biaya rumah sakit. Namun, nyawa ibu bukanlah di tangan dokter atau obat-obatan yang mahal itu, tetapi ada pada kehendak Tuhan. Entah bagaimana, tiba-tiba saja darah itu terhenti dan ibu siuman dari pingsannya.

Persoalan belum selesai. Ketika saat kepulangan tiba, ayah hanya duduk pasrah di depan kepala rumah sakit. Dia hanya menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol karena tak punya apa-apa untuk membayar pengobatan ibu. Kepala rumah sakit dan semua orang yang ada di situ tak bisa berbuat banyak. Mereka akhirnya sepakat mengganti kewajiban ayah dengan menjadikannya tukang cat rumah sakit, yang harus bekerja selama beberapa bulan tanpa bayar. Air mata ayahlah yang menjawabnya.

Untunglah, ada dua kakak laki-lakiku, yang waktu itu masih berusia 10 dan 11 tahun, yang membantu ayah. Mereka merelakan diri untuk tidak bermain. Bahkan, sering kali, karena jatah makan di rumah sakit hanya untuk satu orang, mereka berdua makan hanya satu atau dua suap nasi. Diam-diam aku kagum pada mereka.

Begitulah, hari-hari panjang itu segera berlalu. Kami kembali ke rumah dan mencoba memulai kehidupan yang baru: dengan tangisanku setiap malamnya. Rumah kecil kami kini dihuni 10 orang manusia. Ayah-ibu, eyang kakung, dua remaja, empat anak dan seorang bayi.

Aku tumbuh di antara pertengkaran ayah-ibuku. Kosa kataku, rasanya hanya berisi caci maki dan umpatan. Yang aku ingat, kakakku yang pertama, entah mengapa pergi dari rumah dan kata ibu dia kawin dengan pacarnya. Di belakang hari baru aku tahu makna ucapan ibu tentang kakakku itu. Setelah itu, lalu seorang demi seorang hilang, menyisakan ruang untukku. Mas No, Mas Adit, Mbak Naning… pergi, katanya bekerja. Entah apa yang mereka kerjakan.

Piring pecah, gelas berdecar, meja tergebrak adalah bunyi-bunyian yang hampir setiap saat mengejutkan urat sarafku. Semua bunyi yang semula membuatku takut, rupanya seperti melatih sarafku agar terbiasa. Begitulah, lama-kelamaan aku kebal dan cuek, bahkan bila dalam sehari saja tak mendengar suara gelas pecah, aku merindukannya.

Selang beberapa waktu kemudian, eyang kakung meninggal, tentu karena usia tuanya. Kulihat ibu jauh lebih murung.

Sampai sore itu, di usiaku yang baru 8 tahun itu, ketika di rumah tinggal kami bertiga, kusaksikan sendiri kedua orangtuaku bertengkar hebat. Rasanya lebih hebat dari yang sudah-sudah.

Ibu memaki ayah dengan mengatakan bahwa ayah tak pantas jadi laki-laki. Ayah berang dengan menantang apakah ibu sanggup menjadi laki-laki. Ibu tak mau kalah, dan bersumpah akan menghasilkan lebih banyak uang jika saja sejak dulu diizinkan bekerja. Ayah memaki dan mengeluarkan ucapan yang membuat ibu beku. Entah apa yang didengarnya, namun aku masih ingat ucapan ibu dalam menjawab kata-kata ayah. “…apa bedanya kamu dengan mereka? Bahkan, kurasa masih lebih menguntungkan mereka, karena mereka mau membayar….”

Aku bingung, waktu itu, karena setelah itu tangan ayah menampar wajah ibu.

Kukenang sore itu, aku di pangkuan ayah. Dan itulah sore terakhir aku menyaksikan ibu. Ayah diam. Aku tak berani menangis. Ibu pergi.

*

Aku dititipkan di keluarga pakde-salah seorang kakak ayah. Rumah kecil kami, katanya dijual dan kata ayah untuk modal kerja. Sejak itu, ayah hanya seminggu sekali menjengukku, kadang membawakan oleh-oleh, kadang hanya senyum kecilnya.

Aku sekolah bersama anak-anak pakde. Ayah kian jarang menjengukku, dan kata pakde, ayah bekerja di kapal. Berbulan-bulan kemudian, memang, sebuah kartu pos kuterima dari ayah. Dia bercerita bahwa saat itu dia sedang berlabuh di Abbudhabi. Aku riang. Pijar-pijar kerianganku membintang di sekujur tubuhku. Malamnya aku mimpi berlayar bersama ayah. Namun, itu pun kartu pos pertama dan terakhir kuterima. Setelah itu, waktu seperti membeku bersama kebungkaman pakde dan bude ketika kutanyai kabar ayahku, aku sadar bahwa ayah pun tak akan pernah kembali padaku.

Tahun-tahun remajaku kulalui bersama padang kemarau yang entah di mana tepinya. Aku tak sempat kuliah, karena begitu selesai SMA, pakde menanyakan apakah aku bersedia bekerja di perusahaan milik kenalannya. Kuiyakan tawaran itu, karena mungkin itu yang terbaik untuk saat itu.

Namun, entah mengapa, perubahan kehidupanku yang kurasa sangat cepat itu tak mampu menghilangkan lembaran gelap yang melekat bagai karat di jiwaku. Di kantor, aku adalah kembang yang mekar. Entahlah, aku jadi cepat tanggap bahwa inilah kekuatanku. Bosku sangat perhatian padaku, dan aku tahu dia sebetulnya juga ingin sesekali kuperlakukan sebagai orang istimewa. Ah, kalian terlalu lemah bahkan menghadapi sebutir kancing baju yang lepas.

Aku tak mau kekalahan ayah-ibuku kembali menggulung kehidupanku. Ayah tersisih dari pekerjaan karena dia “hanya” laki-laki yang dengan mudah dikalahkan oleh “kepentingan” lain. Ibu terpaksa “membuka pakaian” karena tak punya pilihan. Aku tak perlu merebut perhatian bosku, karena kehadiranku saja sudah cukup membuat ubun-ubunnya meleleh! Puih!

Dengan mudah aku mendapat kepercayaan dari kantorku untuk maju melobi “orang kuat” yang menentukan tender. Dan dengan mudah pula aku membawa “piala kemenangan” . Kantorku berpijar oleh proyek bermilyar-milyar. Komisiku menebal, dan dengan sendirinya account-ku membuat ngiler para penjaja asuransi dan kartu kredit. Usiaku masih muda. Bintangku kian cemerlang. Otakku cerdas, terasah kerasnya kehidupan ayah-bundaku. Aku cepat tanggap setiap ucapan dan sesegera mungkin menciptakan “perangkap”. Sampai suatu kali, aku tertawa, setelah mendengar julukan yang diberikan padaku: Lady Spider.

Waktu SMA, aku lebih suka membenamkan diri di perpustakaan. Mulanya sekadar ingin menyendiri, namun ketika aku berkenalan dengan Nyai Ontosoroh, tokoh yang diciptakan Pramoedya dalam novel yang kubaca itu, aku merasa menemukan celah cahayaku. Setiap hari aku kian kagum dengan anak desa yang menjadi gundik Tuan Mellema itu. Di mataku dia menjadi sosok bunda yang tegar, dahsyat, dan istimewa. Bayangkan, seorang pribumi tak berpendidikan, sanggup menjalankan perusahaan yang ditinggalkan suaminya. Mengalahkan wibawa semua laki-laki, bahkan seorang Belanda; bangsa yang menjajah, yang berkuasa. Dan ketika aku tertawa karena mendengar julukan yang diberikan orang-orang kepadaku, aku merasa diriku adalah Nyai Ontosoroh.

“Lady Spider”, ya, aku suka julukan itu. Artinya, aku memang berbahaya. Akulah tarantula berbisa, awas! Haha.. rasanya, sejak hari itu, aku sengaja memasang belati di ujung senyumanku, atau menggantungkan dinamit di celah dadaku.

*

Aku terbangun dari tidurku dan kudapati diriku di atas ranjang empuk, dingin oleh AC. Sempat kusaksikan Oprah mencecar tamu show-nya dengan pertanyaan cerdas. Aku tak tertarik. Kuraih remote dan kumatikan cable.

Kubuka e-mailku. Surat dari Sukyi-kolegaku, sahabatku yang ada di Bangkok. Dia meneruskan email-email sebelumnya dan bercerita tentang badai krisis yang menimpa keluarganya. Suaminya harus kehilangan jabatan, hanya karena saingannya seorang perempuan. Perusahaan lebih menyukai perempuan untuk jabatan yang seharusnya diduduki suami Sukyi.

Kurasakan kekosongan luar biasa. Entah kenapa wajah Mirza jadi menguasaiku malam ini. Yang terjadi pada Mirza adalah apa yang juga menimpa suami Sukyi. Apa salah dia padaku? Kubayangkan, suatu hari, yang tak berapa lama lagi, dia akan duduk di beranda rumahnya, dan seorang anak perempuannya meminta pangku dan menemaninya dalam sunyi. Kesunyian seorang kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan. Apa yang telah kulakukan padanya?

Racun yang kutebar membuat setiap usulanku diterima secara aklamasi, meskipun kusadari betul usulanku hanya sekadar memuaskan keliaranku. Hanya karena Mirza terlalu menonjol menentang usulanku, maka “para dewa” membuatnya mengundurkan diri. Tidak; dipecat!

Taringku telah meminta korban. Dan sejarah hidupku berulang pada keluarga Mirza. Dia memang bukan ayahku yang hanya kuli pabrik plastik, namun kehilangan pekerjaan adalah segala-galanya bagi laki-laki, aku tahu persis itu. Dan tanpa kusadari, semuanya gara-gara aku. Malam itu, aku seperti membuat daftar korban yang terkena bisaku. Dan aku hanya bisa menelukungkupkan wajah ke bantal, membayangkan wajah ayah yang entah di mana kuburnya kini. Kemudian bermunculan wajah ibu, eyang, kakak-kakakku, ayah, Mirza, dan entah siapa lagi.

Rasanya, baru malam itulah aku menyadari apa arti keperkasaanku, kemenanganku, kedahsyatanku dari sisi yang lain. Pendingin ruangan, rasanya kian membekukanku. Tanpa kehangatan ayah, ibu, kakak, … dan seseorang yang entah mengapa selalu gagal mencapai pintu hatiku. Bukan hanya itu, kebekuanku, telah meminta korbannya.


*


Siangnya, aku mendapati matahari begitu cerah dan hangat menyambutku. “Lady Spider” dengan detak sepatu rampingnya yang menggedor jantung laki-laki, tengah menyusun strategi bisnis taman wisata di kepulauan seribu. Investor Singapura dan Malaysia akan bersaing ketat, dan itu artinya tak boleh setitik debu pun jadi penghalangnya. Kupasang taringku. Kukenakan dinamitku.

*

Malam. Kubuka jendela apartemen. Purnama. Sepi menusukku lagi. Kembali wajah-wajah itu membayang. Kukutuki semuanya. Semua yang kurintis selama ini. Taring dan dinamit ini. Kubayangkan caci maki meledak-ledak di rumah-rumah korbanku, lalu kanak-kanak yang merindukan ketenangan. Di antara dolar yang naik turun, pertaruhan politik yang entah kapan berakhirnya, Mirza dan kawan-kawan senasibnya akan mengambang seperti sampah. Dan semuanya, di kantor ini, bermula dari diriku. Keangkuhanku, kecantikanku, kebanggaanku dalam meniti catwalk karir, tak mempedulikan tumit sepatuku menusuk kehidupan orang lain. Malam, membuatku seperti ini. Aku tak tahu, apa yang sebaiknya kulakukan?

Haruskah aku menghindari siang, karena di siang hari aku seperti dikuasi iblis. Atau, jangan-jangan, aku memang sudah berubah menjadi iblis di siang hari, yang menguras seluruh nafsuku untuk kemenangan mutlak. Sementara pada malam hari, ketika iblis itu entah kemana, aku ditinggalkan dalam kelelahan tanpa tepi.

Kupandangi purnama dari jendela apartemen yang sengaja kubuka lebar. Kusaksikan Jakarta bermandi cahaya. Dalam kegelapan, kemelip lampu berubah menjadi taburan bintang, atau jutaan kunang-kunang beku. Masih tersisa deru kendaraan jauh di lintangan

jalan. Cahaya yang menabur di hamparan gelap itu, seakan menutupi coreng-moreng Jakarta di siang hari. Dan rasanya, aku menemukan diriku tengah tersaruk-saruk mencari jalan keluar dari labirin aneh yang selalu mengepungku.

Tiba-tiba aku merindukan tembang eyang kakung, tentang malaikat yang membagikan berkahnya tepat tengah malam kepada manusia yang kesepian. Adakah malaikat masih mau singgah di apartemenku, setidaknya memberiku senyum harapan, bahwa aku masih pantas merindukan Tuhan. *

Pinang, 982

Cerpen: Gunawan Wibisono Adidarmodjo
Sumber: Kedaulatan Rakyat,  Edisi 02/27/2005 

BAGI orang yang paham benar dengan budaya Jawa, maka dapat dipastikan akan dengan mudah mengetahui bahwa aku adalah orang Jawa hanya melalui nama yang kumiliki. Sebab, namaku memang khas Jawa, yaitu Waginem. Semasa kecil, teman sepermainan memanggilku dengan sapaan Yu Ginem. Bagiku, panggilan yang terkesan ‘ndesani’ ini tak banyak pengaruhnya. Apalagi aku memang hidup di desa. Nama yang mirip dengan namaku cukup banyak. Misalnya anak Mbok Sapar itu bernama Wagiyah, dan adiknya bernama Tukinem. Nama-nama ini jelas merupakan ‘trade mark’ anak desa yang tinggal di desa dalam masyarakat Jawa. Pada umumnya mereka pun menerima dengan ikhlas ketika mendapatkan panggilan ‘Giyah, Kinem. Memang, ada sebagian dari anak desa yang kemudian menggantikan namanya dengan nama yang terkesan lebih mencerminkan sebagai orang kota. Walau mereka kadangkala berstatus sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga yang cukup kaya.

Berganti panggilan memang terjadi pula pada diriku. Hal ini terjadi sejak aku menjadi suami Mas Susanto, maka nama kecilku seakan musnah tak berbekas. Pada umumnya tetangga menyebutku dengan sapaan Bu Sus atau Bu Santo. Bahkan kedua orang tuaku pun tak lagi memanggilku dengan sapaan Ginem setelah aku punya anak pertama. Nama anakku pertama adalah Heri, maka kedua orang tuaku pun sering menyebutkan dengan sapaan ‘Ibune Heri’. Hanya saja, ketika aku pulang ke desa, pada tahun-tahun awal perkawinanku, masih ada sejumlah teman yang memanggilku dengan nama asliku, Waginem. Namun, tampaknya Mas Santo – biasa aku memanggil suamiku – kurang berkenan jika ada teman lamaku memanggilku dengan nama asliku itu. Entah siapa yang memberitahukan kepada teman-temanku di desa – aku tak tahu – sikap suamiku ini diketahui oleh mereka. Sehingga dalam waktu-waktu berikutnya, setiap aku datang ke desa kelahiranku, tak ada lagi teman-temanku masa kecil yang memanggilku dengan nama kecilku.

Sebagai orang Jawa, aku memang akrab dengan berbagai perilaku orang Jawa pada umumnya. Hanya saja, ketika ibuku – yang biasa aku memanggilnya dengan sebutan ‘simbok’ – menyatakan bahwa sebagai isteri aku harus punya prinsip ‘swarga nunut neraka katut’, aku menolaknya mentah-mentah.

‘’Itu kodratmu Nduk sebagai wanita Jawa,’’ begitu kata ibuku ketika mendengar penolakanku.

‘’Tapi, itu sudah nggak njaman lagi, Mbok,’’ kataku membela diri.

‘’Tapi, kamu sendiri kan sudah mempraktikkannya, kan?’’ tanya ibuku dengan suara datar.

‘’Aku sudah mempraktikkan? Apa maksud Simbok?’’ tanyaku tak mengerti dengan maksud ucapannya sebagai bantahan dari sikapku.

‘’Lha itu, namamu. Kamu kan bernama Waginem, tapi sekarang kau rela atau malah senang, jika dipanggil dengan sebutan Bu Sus atau Bu Santo. Betul, kan?’’ tanya ibuku dengan nada agak bercanda.

Untuk beberapa saat aku terdiam. Dalam batinku secara tiba-tiba muncul pergulatan konflik; antara menerima ucapan ibuku sebagai fakta dengan sikapku yang menolak konsep’ swarga nunut neraka katut’ sebagaimana yang dikatakan oleh ibuku.

‘’Gimana, betulkan Nem? Eh, Bu Santo,’’ kata ibuku masih dengan nada canda.

Meskipun ucapan ibuku bernada canda, namun hal ini sempat membuatku kaget juga.

‘’Tapi, ini lain to Mbok,’’ kataku tiba-tiba yang terkesan asal ucap saja.

‘’Nduk, kamu ini memang lucu,’’ kata ibuku sambil tertawa.

Benarkah karena aku sebagai wanita Jawa harus mempunyai prinsip hidup seperti yang dikatakan oleh ibuku? Kataku dalam hati. Tapi, mengapa aku harus ‘nunut’ jika aku sendiri ingin masuk sorga? Dan mengapa aku harus ‘katut’ jika suamiku masuk ke neraka? Itulah berbagai pertanyaan yang mau tak mau selalu mengusik diriku.

‘’Kalau kamu nggak mau seperti itu, ya jangan mau to Nduk dipanggil Bu Santo atau Bu Sus. Mestinya kamu harus tetap ingin disapa Bu Waginem,’’ kata ibuku lagi.

Mendengar ucapan ini, aku hanya diam. Dalam batinku pun muncul lagi konflik, antara membenarkan dan sekaligus menyalahkan apa yang baru saja dikatakan oleh ibuku.

Hanya saja, dalam hari-hari berikutnya aku tetap rela untuk dipanggil dengan sebutan Bu Sus atau Bu Tanto, walaupun aku tetap bersikap menolak tentang prinsip yang dikatakan oleh ibuku.

Sebagai orang Jawa – meskipun wanita – aku juga agak akrab dengan wayang. Bahkan dalam benakku, wayang dengan budaya Jawa sangat erat kaitannya. Banyak perilaku kehidupan orang Jawa cocok dengan nilai-nilai ada dalam dunia pewayangan. Hanya saja, sampai saat ini, aku tak pernah menemukan sosok wanita yang kuanggap sebagai idola dalam dunia perwayangan. Kunti, isteri Pandu, aku tak punya respek kepada tokoh ini. Dalam bayanganku, tokoh ini gambaran sosok wanita yang tidak setia kepada suami. Bahkan perselingkuhannya pun sempat membuahkan hasil anak tidak hanya satu tapi lebih. Padahal, aku menyadari bahwa sebagai wanita aku harus setia kepada suami. Sungguh kedurhakaan jika aku mencoba mengkhianati suami dengan cara berselingkuh.

Sinta, tokoh dalam kisah Ramayana pun, bagiku bukan tokoh wanita idola. Bagiku tokoh ini menggambarkan sebagai sosok wanita yang tak pernah menuai kebahagiaan. Bahkan tokoh ini masih disangsikan kesuciannya oleh suaminya sendiri. Srikandi atau isteri Arjuna yang lain, bagiku bukan pula merupakan sosok tokoh idola.

***

‘’Jadi kamu akan mengizinkan jika suamimu akan menikah lagi dengan wanita lain?’’ begitulah tanya Lastri teman sekantorku di kantin kantor ketika kami sedang mengobrol sewaktu jam istirahat.

‘’Kalau memang itu membuat suamiku bahagia, mengapa tidak?’’ kataku sambil tetap menikmati gado-gado kesukaanku.

‘’Wah, mestinya kamu ini hidup pada zaman Siti Nurbaya,’’ kata Lastri setelah mendengar ucapanku tadi.

‘’Siapa itu Siti Nurbaya,’’ kataku berlagak tidak tahu dengan nama Siti Nurbaya yang dikatakan oleh Lastri.

‘’Itu, lho tokoh dalam buku sastra yang sering diajarkan oleh guru kita di SMP dulu,’’ ucap Lastri dengan penuh semangat.

‘’O, itu?’’ tanyaku seakan mulai paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Lastri.

‘’Terus, kalau aku cocok hidup di zaman Siti Nurbaya, mengapa?’’ kataku lagi sambil menikmati es teh pesananku.

‘’Sikap hidupmu hanya cocok pada masa itu,’’ kata Lastri kemudian mencoba menjawab pertanyaanku.

‘’Kok, bisa?’’ kataku yang agak kurang paham dengan apa yang baru saja dikatakan olehnya.

‘’Pada masa itu kan ibaratnya seorang isteri harus taat kepada suami,’’ kata Lastri mencoba memberikan penjelasan.

‘’Lho, apa sekarang seorang isteri itu tidak perlu taat kepada suami?’’ kataku lagi mencoba meluruskan apa yang baru saja dikatakan oleh Lastri.

‘’Tapi, bukan begitu caranya,’’ ujar Lastri yang terkesan untuk membela diri dan menguatkan pendapatnya.

‘’Bagiku sebenarnya masalahnya justru terletak pada komitmen seorang isteri dalam keinginannya untuk membahagiakan suami,’’ kataku mencoba memberikan penjelasan tentang prinsip hidupku dalam hidup berumah tangga.

Sejak aku resmi menjadi istri Mas Susanto, aku membangun sebuah komitmen untuk selalu berupaya membahagiakan suami. Bagiku, kebahagiaan suami adalah segala-galanya. Sebab, kebahagiaan suami bagiku identik dengan kebahagiaanku pula. Menurut logikaku jika suami istri berbahagia, maka berbahagialah keluarga itu. Demikian pula untuk sebaliknya. Hanya saja, anehnya, sikap hidupku semacam ini justru dianggap aneh oleh teman-temanku, termasuk Lastri, teman sekantorku.

‘’Rasanya sangat sulit untuk dapat memahami sikap hidupmu Bu Sus,’’ kata Bu Rokhayah tetanggaku sebelah. Tampaknya, tetanggaku ini juga sependapat dengan Lastri teman sekantorku berkaitan dengan prinsip dalam kehidupanmu berumah tangga.

‘’Jadi, andaikan suami menceraikan Bu Sus, maka Bu Sus juga akan menerimanya?’’ katanya kemudian dengan nada yang cukup serius.

‘’Ya, jika…’’ kataku yang sengaja tidak kulanjutkan. Hal ini aku lakukan untuk mengetahui bagaimana sikap Bu Rokhayah terhadap jawabanku ini. Tampaknya, dengan jawabanku ini Bu Rokhayah seakan semakin terpacu untuk meminta penjelasan lebih lanjut tentang jawabanku tadi.

‘’Jika apa?’’ tanya beliau dengan nada yang terkesan sangat antusias.

‘’Jika hal itu memang dapat membuatnya bahagia,’’ kata pelan melengkapi jawabanku sebelumnya.

‘’Gila,’’ terdengar olehku ucapan Bu Rokhayah dengan nada suara yang nyaris tak terdengar.

‘’Siapa yang gila, Bu?’’ tanyaku dengan nada heran.

Mendengar pertanyaanku ini, aku lihat Bu Rokhayah agak terkejut. Mungkin ia tidak mengira jika ucapannya tadi terdengar olehku meski hanya diucapkan dengan nada yang sangat lirih.

‘’Ah, nggak ada,’’ jawabnya dengan gaya seseorang yang mencoba menutup rasa malu.

***

Sesuai dengan rencana kami berdua, aku dan Mas Santo, malam ini mengundang sejumlah sahabat ke rumah. Kami berdua berkeinginan untuk merayakan hari ulang tahun ke-25 perkawinan kami. Menurut kami, hari yang sangat bersejarah ini pantas untuk dirayakan, meski hanya sangat sederhana, yaitu mengundang sejumlah sahabat untuk makan malam di rumah.

Tepat pukul setengah delapan malam, sejumlah sahabat yang kami undang nyaris telah hadir semua. Memang ada beberapa sahabat yang sebelumnya memberi tahu akan datang terlambat, karena masih ada urusan yang harus diselesaikannya. Namun, mereka berjanji akan hadir dalam pertemuan yang kami selenggarakan.

Setelah ada sambutan dan ucapan selamat datang yang disampaikan oleh Mas Susanto yang waktu itu aku berdiri di sampingnya, maka acara ramah tamah pun dimulai. Di awal acara itu, secara bergiliran para tamu menyampaikan ucapan selamat kepada kami dengan cara berjabatan tangan. Mereka menyatakan salut atas prestasi kami yang telah mampu membangun mahligai rumah tangga selama dua puluh lima tahun. Bagi mereka hal ini memang sebuah prestasi yang pantas untuk disyukuri dan dirayakan.

Di sela-sela ramah tamah itu, tiba-tiba Lastri mendekatiku dan kemudian bertanya.’’ Jadi, Mas Sus tak pernah berniat untuk menikah lagi dengan wanita lain?’’

‘“Seperti kau lihat sekarang ini,’’ jawabku dengan tersenyum.

‘’Dan…?’’ tanyanya kemudian yang sempat aku potong.

‘’Tidak menceraikanku? Tanyaku kepada melengkapi pertanyaannya yang sempat aku potong.

‘’Ya,’’ jawabnya pendek.

‘“Seperti kau lihat sekarang,’’ kataku masih dengan tersenyum.

‘’Mengapa demikian?’’ tanyanya lagi dengan nada suara yang terkesan bersemangat.

‘’Mau tahu, ya?’’ tanyaku dengan nada berseloroh.

‘’Ya’’, jawabnya pendek.

‘’Dulu kan pernah aku katakan bahwa bagiku kebahagiaan suami adalah segala-galanya,’’ kataku yang kali ini dengan nada serius.

‘’Betul,’’ katanya pendek, ‘’Terus?’’

‘’Dan kamu tahu apa kebahagiaan Mas Santo?’’ tanyaku kepadanya.

‘’Nggak,’’ katanya pendek.

‘’Kebahagiaan Mas Santo itu adalah…’’ kataku yang sengaja tak kelanjutannya. Aku ingin mengetahui bagaimana responsnya ketika mendengar ucapanku tadi.

‘’Adalah apa?’’ tanyanya dengan nada yang sangat serius.

‘’Mas Santo merasa bahagia jika hanya mencintaiku seseorang,’’ kataku dengan nada mantap.

Mendengar ucapanku ini aku lihat wajahnya agak berubah. Mungkin ia tidak mengira jika kebahagiaan suamiku adalah mencintaiku seseorang. Dengan kebahagiaannya semacam ini, maka tidaklah terlalu salah jika aku menyatakan bahwa membuat suami bahagia adalah segala-galanya bagiku.

Begitu aku memberikan penjelasan itu kepada Lastri, terdengar suara dari pembawa acara bahwa pesta syukuran telah usai. Para tamu pun mulai meninggalkan rumahku satu per satu. ***

Makamhaji, 3 September 2004.

Cerpen: Narwan S Kelana
Sumber: Kedaulatan Rakyat,  Edisi 01/13/2002 

BERABAD-ABAD aku di sini. Bersemayam di dinding kamulan ini. Kamulan agung tiada tara. Orang-orang menyebut kamulan agung ini dengan sebutan Candi Borobudur. Mereka juga menyebutnya sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Berabad-abad aku di sini. Karena aku tinggal di dalam karyaku sendiri. Aku masih dalam relief rupadhatu ini. Entah sampai kapan. Berjuta pasang mata telah menatapku. Berjuta tangan telah menyentuhku, dan entah berapa kali lampu kilat menyilaukan mataku. Berapa kali abu Merapi melaburiku. Entah berapa kali. Aku masih dalam relief ini. Dalam karyaku sendiri, yang telah kupahat dengan keringat dan darahku.Aku ingat sekali waktu itu. Utusan Gunadharma mendatangiku, memintaku untuk memahat di bangunan kamulan agung. Aku diberi tugas meneruskan pekerjaan pemahat yang belum usai. Belum usai, karena pemahat itu keburu tewas, disengat terik matahari yang membakar tubuhnya yang tinggal tulang berbungkus kulit.”Engkau harus meneruskan pekerjaan itu, Gandapala!” kata utusan Gunadharma.”Maaf, Tuan. Hamba sudah tidak memahat lagi. Hamba tidak sanggup Tuan…””Apa?! Kamu berani menolak perintah raja? Oh, celaka kamu, Gandapala!” katanya sambil berkacak pinggang.Aku memang telah lama tak memahat. Aku sedang mendalami ajaran-ajaran ayahku. Beliau menginginkan apa yang dituntutnya di negeri. Kapilawastu dan telah diwariskan kepadaku dapat aku dalami dan aku amalkan. Memadamkan segala api nafsu duniawi.”Prajurit! Seret orang ini dan bawa menghadap Gusti Prabu!”Perintah itu adalah awal siksaan yang kutanggung. Sepanjang hari, sepanjang waktu. Aku dibawa menghadap raja. Aku diperintah Gunadharma memahat dinding candi. Aku meneruskan relief kisah Jataka Awadhana. Relief-relief penghias rupadhatu, penghias tempat pemujaan agung. Kamulan yang akan menjadi bukti kejayaan wangsa Syailendra.Aku sangat tersiksa. Hatiku teriris-iris sepanjang napas. Betapa tidak? Aku berada di antara ribuan manusia yang sibuk bekerja, di bawah ketakutan. Memikul batu, mendorong batu, memecah batu, memahat batu. Mata mereka kuyu, tubuh kotor berdaki. Dan sendi-sendi menyembul seakan ingin merobek kulit yang membalutnya.Batinku tersayat-sayat, oleh geletar cemeti mengiringi erangan-erangan memilukan. Tubuh-tubuh berdarah bergelimpangan. Aku melihat lautan anyir keringat bercampur darah di sekelilingku. Laut yang mengapungkan tubuh-tubuh tak bernyawa. Melepas jiwa demi sang penguasa. Aku semakin tersiksa dengan pemandangan itu, kesewenang-wenangan penindasan manusia atas manusia. Meski kubutakan mataku, meski kutulikan telingaku. Namun aku tidak dapat membutakan mata hatiku dan menulikan nuraniku.***Aku masih memahat Jataka Awadhana. Entah telah berapa depa panjangnya, aku tak dapat mengukurnya. Aku tak dapat pergi ke mana-mana. Cambukan cemeti akan mendarat di punggungku bila aku berlama-lama istirahat. Aku dijaga ketat oleh dua prajurit kekar. Aku harus terus memahat. Tidak beda dengan orang-orang disekelilingku. Mereka terus menyemut. Ribuan semut yang mengangkat batu.Suara palu dan pahat di tanganku telah dapat meredam geletar cemeti dan erangan pilu. Ayunan tanganku tak mampu mencegah nyawa-nyawa yang melayang. Setiap saat di kelilingku selalu ada geletar cemeti melukis tubuh. Erangan yang merobek langit dan darah yang mengalirkan jiwa ke dalam sayatan-sayatan sanubari.Aku sangat terkejut ketika harus memahat kisah kehidupan para pelayar. Pelayar dengan bahita di tengah-tengah samudra. Bahita, sebuah perahu besar, seperti yang membawa ayah manakala beliau menuntut ilmu ke negeri Kapilawastu. Aku masih ingat ciri-ciri bahita. Perahu besar yang ditumpangi ayahku. Tanganku mulai menarikan pahat di dinding batu, memahatkan Jataka Awadhana dari kisah ke kisah. Adegan-adegan kehidupan dunia. Kehidupan yang akan kutinggalkan. Kehidupan semu yang penuh gelimang kesenangan menyesatkan. Bukan kehidupan abadi yang kudamba melalui pemadaman nafsu dunia mencapai nirwana. Meski penuh derita jalan ke sana. Meski aku harus mengalaminya. Meski itu harus kuselesaikan Jataka Awadhana dan Gandawyuha. Aku sadar memang hidup adalah pengorbanan.***Kupahat relief bahita di tengah samudra. Pahatku menari-nari di dinding batu. Mengikisnya menjadi kisah. Adegan itu terus dipengaruhi luapan perasaanku. Perasaan yang timbul akibat keadaan di sekelilingku. Penindasan, kesewenang-wenangan, dan kekuasaan yang mencabik-cabik perikemanusiaan. Merobek-robek hati nuraniku.Relief telah jadi. Sebuah pemandangan romantika pelayanan di tengah samudra. Manusia-manusia yang melawan maut. Bahita yang dihempas badai! Relief ini penuh dengan adegan ngeri, seperti suasana di sekelilingku. Sebuah tragedi yang menimpa makhluk bernama manusia.’”Apa maksud pahatan ini, Gandapala?” Tanya Gunadharma – sang arsitek ccandi ini – kepadaku.”Hamba Gusti. Inilah lukisan kehidupan pelayar di tengah samudra dengan sebuah bahita, Gusti.””Mengapa lukisannya seperti ini?””Ampun Gusti, hamba sangat dipengaruhi oleh perasaan hamba saat ini”.”Apa maksudmu?””Hamba serasa sedang berada dalam bahita itu, Gusti. Hamba mendengar deburan ombak, gelegar petir, dan hempasan badai yang dahsyat”.”Kamu jangan mengigau, Gandapala. Sekarang kamu berada di kamulan agung, Pahatanmu sungguh tak sesuai dengan Jataka Awadhana atau Gandawyuha…””Ampun, Gusti, Hamba merasa pahatan ini juga melukiskan kehidupan manusia. Dan hamba merasa gambaran itu sedang terjadi saat ini, Gusti.””Maksudmu?””Ampun, Gusti. Bukankah kamulan ini ibarat bahita? Dan kita di sini sebagai awak bahita itu? Kita mendengar suara petir dari ujung-ujung cemeti, kita melihat geliat ombak dari ribuan tulang-tulang berbungkus kulit…””Aku tak mengerti maksudmu, Gandapala.”Aku merasa kualahan. Ternyata sang arsitek Candi itu tak mengerti apa yang aku maksudkan. Perumpamaan-perumpamaan itu seakan tak menyentuh hati nuraninya.”Begini, Gusti. Bahita ibarat sebuah negara. Apabila sang pemimpin bahita tetap berpedoman pada mata angin, mampu membuat rukun awak bahitanya, berbuat adil kepada mereka, niscaya bahita akan melaju mencapai tujuan pelayaran, namun sebaliknya…””Sebaliknya apa, Gandapala?””…Bila sang pemimpin tak lagi berpegang mata angin, membiarkan penindasan terjadi di atas geladak, sang juru mudi semaunya sendiri mengarahkan bahita. Maka tinggal menunggu waktu saja. Badai akan menenggelamkan bahita ke dasar samudra…””Apakah yang kau maksud tentang negeri ini, Gandapala?””Saya kira Gusti lebih mengerti…”Gunadharma meninggalkan tempat itu dengan meninggalkan isyarat yang tak dapat kutangkap. Isyarat itu ditujukan kepada para pengawal. Aku sama sekali tak tahu kalau Gunadharma sangat marah mendengar penuturanku. Mungkin kata-kataku dianggap menghina sang penguasa. Aku dicambuk. Entah berapa kali geletar cemeti mendarat di punggungku. Aku mencoba bertahan, meski pedih perih merajam sekujur tubuh. Penyiksaan itu diakhiri dengan…” Agh!”Sebilah keris menancap jantungku. Darah segar menyembur dari dadaku. Melaburi bahita di dinding batu. Kutinggalkan ragaku yang telah penuh garis-garis merah cemeti. Aku melihat jelas, tubuhku diseret bagai hewan buruan yang terpanah. Dicampakkan begitu saja, hingga lalat-lalat bersuka ria menghisap anyir darah.Aku menjadi pemahat rupadhatu yang mati sia-sia di depan karyanya, yang melaburi pahatan dengan darah. Namun tak tercatat oleh sejarah. Aku menjadi korban kesekian, tumbal kamulan agung. Tumbal ambisi penguasa, tumbal kejayaan suatu wangsa. Aku masih di sini, di relief ini. Entah untuk berapa abad lagi. Entah masih berapa wangsa lagi. Aku hanya mampu menanti dan menanti.Borobudur, Januari 2000.

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.