DALAM diriku ada sebuah parit hitam. Aku bisa melihatnya, merasakannya, namun tak sanggup mengendalikannya. Parit hitam misterius yang ada dalam diriku ini, entah sejak kapan ada di sana. Dia hanya berkelok-kelok, mengalir tanpa hulu dan hilir, mencoba mendesakkan arusnya dan menghanyutkanku dalam alirannya.
Dia tidak hanya kelam, mengalir kental dalam diam, namun sekaligus mengepulkan asap-asap aneh yang setiap kali membuatku lumpuh. Tak bisa lagi aku mengungkapkan rasa jijikku padanya; pada sesuatu yang telah menjadi bagian dari diriku ini. Dalam kegelisahanku, kadang aku sempat bertanya, apakah ini sebuah hukuman bagiku, ataukah sebuah rencana besar yang entah mengapa tak bisa kusaksikan keindahannya.
*
Yang kuingat, aku dibesarkan di sebuah keluarga besar. Aku tumbuh dengan satu pengertian bahwa hanya malamlah, satu-satunya saat di mana aku bisa merasakan keheningan. Hanya malamlah, satu-satunya saat di mana aku bisa mereguk kelembutan. Ya, kelembutan; tanpa makian, cacian, umpatan dan tangisan. Dalam kelam malam bisa kusaksikan indahnya cahaya rembulan. Dalam kelam malam bisa kuikuti kepak kelelawar menangkap serangga. Kehidupan hanya bisa kujalani di malam hari. Begitu kuatnya daya pesona malam bagiku, sampai-sampai aku tak ingin memejamkan mata di malam hari.
Sering kali aku mengkhayalkan diriku memiliki sepasang sayap angsa putih. Dan dengan sepasang sayapku itu, aku bisa terbang bebas mencapai rembulan. Aku ingin membawa diriku bergulingan di awan putih kapas, atau menyelusup dalam pekatnya mendung di awang-awang.
Nyanyian alam, di malam hari, begitu merdu dan murninya. Kata eyang kakung, ketika itu, tepat jam dua belas malam hari, para malaikat turun ke bumi. Ada yang membawa pundi-pundi uang, ada yang membawa wewangian surgawi bagi mereka yang belum lelap digulung kelam. Kata eyang pula, bahwa Tuhan sangat begitu perhatian pada malam hari, dan karenanya, siapa pun yang memanjatkan doa di malam buta akan lebih mudah terkabul. Mungkin itu yang membuatku begitu bahagia menikmati malam.
*
Aku ingat sesuatu, ketika umurku masih 8 tahun. Waktu itu, ayahku habis bertengkar dengan ibu; sebuah pertengkaran biasa dan seolah menjadi napas hidup keluarga kami. Ayahku merokok di depan rumah. Dia mengenakan sarungnya dan duduk di balai-balai, memandangi kegelapan malam.
Dengan diam aku langsung saja minta pangku. Ayah mematikan rokoknya dan segera meraihku ke dalam pelukannya. Meskipun masih panas oleh sisa marah, ayah tak bisa menghardikku, entahlah. Lama kami tak berkata apa-apa. Seakan membiarkan kesenyapan mengalir entah menuju muara mana.
Setelah menit-menit hening itu melenggok-lenggok beberapa saat, tiba-tiba kudengar suara parau ayah mengusir sepi.
“Kalau ayah pergi, kau harus bisa mengurus rumah…,” ucapnya seolah diriku adalah bagian dari sebuah pembicaraan panjang yang entah sejak kapan dimulainya.
“Ayah mau ke mana?” tanyaku dengan suara hampir-hampir sedatar kesenyapan.
Ayah diam saja. Dia tak yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya kepadaku.
“Kalau ayah pergi, Ade minta pangku siapa?” tanyaku.
Aku yakin ayah cuma tersenyum. Aku sendiri tak melihatnya, namun bisa merasakannya lewat keheningan yang mengalir perlahan di hadapan kami.
Tiba-tiba aku membayangkan sesuatu yang aneh. Aneh sekali, bahwa di rumah tak ada ayah dengan sarung tambalannya, dengan asap rokok dan secangkir kopinya. Sejak ingatanku bisa menangkap isi rumah ini, ayahlah yang paling sering dan paling kuat melekat di ingatanku. Dialah orang yang paling diam, sekaligus paling keras suaranya bila sudah marah. Kakak-kakakku semuanya pernah merasakan pukulan tangan ayah. Ibu, kurasa juga pernah, hanya saja aku tak pernah secara langsung menyaksikannya.
*
Sebelum aku lahir, ayah adalah pekerja pabrik alat rumah tangga yang terbuat dari plastik. Entah karena apa, ayah dipecat dan pesangonnya tak cukup untuk mengisi perut-perut di rumah kami. Kakak-kakakku banyak yang kemudian berhenti sekolah. Ada yang bekerja menjadi kuli bangunan, ada yang agak baik: bisa menjadi sopir, tapi selebihnya tinggal di rumah; menjadi hiasan tak sedap di setiap sudut rumah.
Sebulan setelah ayah dipecat, aku lahir selamat. Tak ada keistimewaan apa-apa yang menandai kelahiranku. Ayah tak menunjukkan kegembiraan, ibu juga demikian. Semua saudaraku sepertinya sudah biasa menghadapi bayi baru; dan aku bukan hal baru bagi mereka. Hanya eyang kakung, yang sudah agak pikun itu yang dengan kekeh geli ketawanya menyambut kehadiranku di dunia. Beliau pula yang menanam ari-ariku, mengijingnya dan memberinya pelita minyak di malam hari.
Namun, kata ibu, dua jam setelah kelahiranku, ibu mengalami perdarahan hebat. Menurut bidan, ada luka di dalam perut ibu. Darah yang mengucur dari rahim ibu, seperti tetesan air dari kran yang bocor. Darah menggenang. Ayah panik. Ibu makin memucat. Bidan akhirnya memanggil dokter. Dokter menyarankan agar ibu dibawa ke rumah sakit yang agak besar untuk mendapatkan perawatan intensif.
Detik-detik begitu cepat berlalu. Ayah hanya pasrah karena tak tahu dengan apa nanti dia harus membayar biaya rumah sakit. Namun, nyawa ibu bukanlah di tangan dokter atau obat-obatan yang mahal itu, tetapi ada pada kehendak Tuhan. Entah bagaimana, tiba-tiba saja darah itu terhenti dan ibu siuman dari pingsannya.
Persoalan belum selesai. Ketika saat kepulangan tiba, ayah hanya duduk pasrah di depan kepala rumah sakit. Dia hanya menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol karena tak punya apa-apa untuk membayar pengobatan ibu. Kepala rumah sakit dan semua orang yang ada di situ tak bisa berbuat banyak. Mereka akhirnya sepakat mengganti kewajiban ayah dengan menjadikannya tukang cat rumah sakit, yang harus bekerja selama beberapa bulan tanpa bayar. Air mata ayahlah yang menjawabnya.
Untunglah, ada dua kakak laki-lakiku, yang waktu itu masih berusia 10 dan 11 tahun, yang membantu ayah. Mereka merelakan diri untuk tidak bermain. Bahkan, sering kali, karena jatah makan di rumah sakit hanya untuk satu orang, mereka berdua makan hanya satu atau dua suap nasi. Diam-diam aku kagum pada mereka.
Begitulah, hari-hari panjang itu segera berlalu. Kami kembali ke rumah dan mencoba memulai kehidupan yang baru: dengan tangisanku setiap malamnya. Rumah kecil kami kini dihuni 10 orang manusia. Ayah-ibu, eyang kakung, dua remaja, empat anak dan seorang bayi.
Aku tumbuh di antara pertengkaran ayah-ibuku. Kosa kataku, rasanya hanya berisi caci maki dan umpatan. Yang aku ingat, kakakku yang pertama, entah mengapa pergi dari rumah dan kata ibu dia kawin dengan pacarnya. Di belakang hari baru aku tahu makna ucapan ibu tentang kakakku itu. Setelah itu, lalu seorang demi seorang hilang, menyisakan ruang untukku. Mas No, Mas Adit, Mbak Naning… pergi, katanya bekerja. Entah apa yang mereka kerjakan.
Piring pecah, gelas berdecar, meja tergebrak adalah bunyi-bunyian yang hampir setiap saat mengejutkan urat sarafku. Semua bunyi yang semula membuatku takut, rupanya seperti melatih sarafku agar terbiasa. Begitulah, lama-kelamaan aku kebal dan cuek, bahkan bila dalam sehari saja tak mendengar suara gelas pecah, aku merindukannya.
Selang beberapa waktu kemudian, eyang kakung meninggal, tentu karena usia tuanya. Kulihat ibu jauh lebih murung.
Sampai sore itu, di usiaku yang baru 8 tahun itu, ketika di rumah tinggal kami bertiga, kusaksikan sendiri kedua orangtuaku bertengkar hebat. Rasanya lebih hebat dari yang sudah-sudah.
Ibu memaki ayah dengan mengatakan bahwa ayah tak pantas jadi laki-laki. Ayah berang dengan menantang apakah ibu sanggup menjadi laki-laki. Ibu tak mau kalah, dan bersumpah akan menghasilkan lebih banyak uang jika saja sejak dulu diizinkan bekerja. Ayah memaki dan mengeluarkan ucapan yang membuat ibu beku. Entah apa yang didengarnya, namun aku masih ingat ucapan ibu dalam menjawab kata-kata ayah. “…apa bedanya kamu dengan mereka? Bahkan, kurasa masih lebih menguntungkan mereka, karena mereka mau membayar….”
Aku bingung, waktu itu, karena setelah itu tangan ayah menampar wajah ibu.
Kukenang sore itu, aku di pangkuan ayah. Dan itulah sore terakhir aku menyaksikan ibu. Ayah diam. Aku tak berani menangis. Ibu pergi.
*
Aku dititipkan di keluarga pakde-salah seorang kakak ayah. Rumah kecil kami, katanya dijual dan kata ayah untuk modal kerja. Sejak itu, ayah hanya seminggu sekali menjengukku, kadang membawakan oleh-oleh, kadang hanya senyum kecilnya.
Aku sekolah bersama anak-anak pakde. Ayah kian jarang menjengukku, dan kata pakde, ayah bekerja di kapal. Berbulan-bulan kemudian, memang, sebuah kartu pos kuterima dari ayah. Dia bercerita bahwa saat itu dia sedang berlabuh di Abbudhabi. Aku riang. Pijar-pijar kerianganku membintang di sekujur tubuhku. Malamnya aku mimpi berlayar bersama ayah. Namun, itu pun kartu pos pertama dan terakhir kuterima. Setelah itu, waktu seperti membeku bersama kebungkaman pakde dan bude ketika kutanyai kabar ayahku, aku sadar bahwa ayah pun tak akan pernah kembali padaku.
Tahun-tahun remajaku kulalui bersama padang kemarau yang entah di mana tepinya. Aku tak sempat kuliah, karena begitu selesai SMA, pakde menanyakan apakah aku bersedia bekerja di perusahaan milik kenalannya. Kuiyakan tawaran itu, karena mungkin itu yang terbaik untuk saat itu.
Namun, entah mengapa, perubahan kehidupanku yang kurasa sangat cepat itu tak mampu menghilangkan lembaran gelap yang melekat bagai karat di jiwaku. Di kantor, aku adalah kembang yang mekar. Entahlah, aku jadi cepat tanggap bahwa inilah kekuatanku. Bosku sangat perhatian padaku, dan aku tahu dia sebetulnya juga ingin sesekali kuperlakukan sebagai orang istimewa. Ah, kalian terlalu lemah bahkan menghadapi sebutir kancing baju yang lepas.
Aku tak mau kekalahan ayah-ibuku kembali menggulung kehidupanku. Ayah tersisih dari pekerjaan karena dia “hanya” laki-laki yang dengan mudah dikalahkan oleh “kepentingan” lain. Ibu terpaksa “membuka pakaian” karena tak punya pilihan. Aku tak perlu merebut perhatian bosku, karena kehadiranku saja sudah cukup membuat ubun-ubunnya meleleh! Puih!
Dengan mudah aku mendapat kepercayaan dari kantorku untuk maju melobi “orang kuat” yang menentukan tender. Dan dengan mudah pula aku membawa “piala kemenangan” . Kantorku berpijar oleh proyek bermilyar-milyar. Komisiku menebal, dan dengan sendirinya account-ku membuat ngiler para penjaja asuransi dan kartu kredit. Usiaku masih muda. Bintangku kian cemerlang. Otakku cerdas, terasah kerasnya kehidupan ayah-bundaku. Aku cepat tanggap setiap ucapan dan sesegera mungkin menciptakan “perangkap”. Sampai suatu kali, aku tertawa, setelah mendengar julukan yang diberikan padaku: Lady Spider.
Waktu SMA, aku lebih suka membenamkan diri di perpustakaan. Mulanya sekadar ingin menyendiri, namun ketika aku berkenalan dengan Nyai Ontosoroh, tokoh yang diciptakan Pramoedya dalam novel yang kubaca itu, aku merasa menemukan celah cahayaku. Setiap hari aku kian kagum dengan anak desa yang menjadi gundik Tuan Mellema itu. Di mataku dia menjadi sosok bunda yang tegar, dahsyat, dan istimewa. Bayangkan, seorang pribumi tak berpendidikan, sanggup menjalankan perusahaan yang ditinggalkan suaminya. Mengalahkan wibawa semua laki-laki, bahkan seorang Belanda; bangsa yang menjajah, yang berkuasa. Dan ketika aku tertawa karena mendengar julukan yang diberikan orang-orang kepadaku, aku merasa diriku adalah Nyai Ontosoroh.
“Lady Spider”, ya, aku suka julukan itu. Artinya, aku memang berbahaya. Akulah tarantula berbisa, awas! Haha.. rasanya, sejak hari itu, aku sengaja memasang belati di ujung senyumanku, atau menggantungkan dinamit di celah dadaku.
*
Aku terbangun dari tidurku dan kudapati diriku di atas ranjang empuk, dingin oleh AC. Sempat kusaksikan Oprah mencecar tamu show-nya dengan pertanyaan cerdas. Aku tak tertarik. Kuraih remote dan kumatikan cable.
Kubuka e-mailku. Surat dari Sukyi-kolegaku, sahabatku yang ada di Bangkok. Dia meneruskan email-email sebelumnya dan bercerita tentang badai krisis yang menimpa keluarganya. Suaminya harus kehilangan jabatan, hanya karena saingannya seorang perempuan. Perusahaan lebih menyukai perempuan untuk jabatan yang seharusnya diduduki suami Sukyi.
Kurasakan kekosongan luar biasa. Entah kenapa wajah Mirza jadi menguasaiku malam ini. Yang terjadi pada Mirza adalah apa yang juga menimpa suami Sukyi. Apa salah dia padaku? Kubayangkan, suatu hari, yang tak berapa lama lagi, dia akan duduk di beranda rumahnya, dan seorang anak perempuannya meminta pangku dan menemaninya dalam sunyi. Kesunyian seorang kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan. Apa yang telah kulakukan padanya?
Racun yang kutebar membuat setiap usulanku diterima secara aklamasi, meskipun kusadari betul usulanku hanya sekadar memuaskan keliaranku. Hanya karena Mirza terlalu menonjol menentang usulanku, maka “para dewa” membuatnya mengundurkan diri. Tidak; dipecat!
Taringku telah meminta korban. Dan sejarah hidupku berulang pada keluarga Mirza. Dia memang bukan ayahku yang hanya kuli pabrik plastik, namun kehilangan pekerjaan adalah segala-galanya bagi laki-laki, aku tahu persis itu. Dan tanpa kusadari, semuanya gara-gara aku. Malam itu, aku seperti membuat daftar korban yang terkena bisaku. Dan aku hanya bisa menelukungkupkan wajah ke bantal, membayangkan wajah ayah yang entah di mana kuburnya kini. Kemudian bermunculan wajah ibu, eyang, kakak-kakakku, ayah, Mirza, dan entah siapa lagi.
Rasanya, baru malam itulah aku menyadari apa arti keperkasaanku, kemenanganku, kedahsyatanku dari sisi yang lain. Pendingin ruangan, rasanya kian membekukanku. Tanpa kehangatan ayah, ibu, kakak, … dan seseorang yang entah mengapa selalu gagal mencapai pintu hatiku. Bukan hanya itu, kebekuanku, telah meminta korbannya.
*
Siangnya, aku mendapati matahari begitu cerah dan hangat menyambutku. “Lady Spider” dengan detak sepatu rampingnya yang menggedor jantung laki-laki, tengah menyusun strategi bisnis taman wisata di kepulauan seribu. Investor Singapura dan Malaysia akan bersaing ketat, dan itu artinya tak boleh setitik debu pun jadi penghalangnya. Kupasang taringku. Kukenakan dinamitku.
*
Malam. Kubuka jendela apartemen. Purnama. Sepi menusukku lagi. Kembali wajah-wajah itu membayang. Kukutuki semuanya. Semua yang kurintis selama ini. Taring dan dinamit ini. Kubayangkan caci maki meledak-ledak di rumah-rumah korbanku, lalu kanak-kanak yang merindukan ketenangan. Di antara dolar yang naik turun, pertaruhan politik yang entah kapan berakhirnya, Mirza dan kawan-kawan senasibnya akan mengambang seperti sampah. Dan semuanya, di kantor ini, bermula dari diriku. Keangkuhanku, kecantikanku, kebanggaanku dalam meniti catwalk karir, tak mempedulikan tumit sepatuku menusuk kehidupan orang lain. Malam, membuatku seperti ini. Aku tak tahu, apa yang sebaiknya kulakukan?
Haruskah aku menghindari siang, karena di siang hari aku seperti dikuasi iblis. Atau, jangan-jangan, aku memang sudah berubah menjadi iblis di siang hari, yang menguras seluruh nafsuku untuk kemenangan mutlak. Sementara pada malam hari, ketika iblis itu entah kemana, aku ditinggalkan dalam kelelahan tanpa tepi.
Kupandangi purnama dari jendela apartemen yang sengaja kubuka lebar. Kusaksikan Jakarta bermandi cahaya. Dalam kegelapan, kemelip lampu berubah menjadi taburan bintang, atau jutaan kunang-kunang beku. Masih tersisa deru kendaraan jauh di lintangan
jalan. Cahaya yang menabur di hamparan gelap itu, seakan menutupi coreng-moreng Jakarta di siang hari. Dan rasanya, aku menemukan diriku tengah tersaruk-saruk mencari jalan keluar dari labirin aneh yang selalu mengepungku.
Tiba-tiba aku merindukan tembang eyang kakung, tentang malaikat yang membagikan berkahnya tepat tengah malam kepada manusia yang kesepian. Adakah malaikat masih mau singgah di apartemenku, setidaknya memberiku senyum harapan, bahwa aku masih pantas merindukan Tuhan. *
Pinang, 982 |